Selangkah ke 16 Besar dan Alarm untuk Lini Belakang

Persebaya. Foto: Ninda Sahriyani/EJ

Persebaya berhasil memenuhi target mengambil poin penuh dalam laga kandang menjamu PSIM Yogyakarta, Rabu (16/8). Dua gol yang dicetak Otktafianus Fernando pada menit ke-15 dan sepakan penalti Misbakhus Solikin pada menit ke-43 membawa Persebaya unggul 2-0 atas PSIM sebelum jeda. PSIM yang bermain lebih baik pada babak kedua berhasil mencetak gol hiburan jelang laga usai melalui Engkus Kuswaha memanfaatkan kemelut di muka gawang Bajul Ijo. Hingga peluit akhir dibunyikan, Persebaya tetap unggul 2-1 atas tamunya, PSIM Yogyakarta.

Kemenangan atas PSIM membuat Persebaya menjejakkan satu kakinya di babak 16 Besar. Tak hanya itu saja, Bajul Ijo juga tetap menjaga posisi puncak klasemen Grup 5 sekaligus menjaga rekor tak terkalahkan dalam 10 pertandingan terakhir. Pada laga yang digelar tepat sebelum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tersebut, Angel Alfredo Vera kembali menurunkan komposisi terbaiknya, dengan sejumlah pergantian starter di beberapa posisi. Di bawah mistar gawang, Miswar Sahputra dipercaya sejak menit pertama, menggantikan posisi Dimas Galih. Di sektor pertahanan, Fandry Imbiri kembali dimainkan setelah sebelumnya absen pada laga away ke Pamekasan. Begitu juga dengan Kurniawan Karman yang dipercaya mengisi posisi full-back kanan setelah menepi dua pekan akibat cedera. Selebihnya, Alfredo menurunkan starter yang sama seperti kala menghadapi Persepam MU di pekan sebelumnya.

Persebaya Memenangkan Duel di Lini Tengah

Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, absennya Raymond Tauntu (gelandang bertahan PSIM) nyatanya benar-benar mengurangi kekuatan Laskar Mataram di lini tengah. Tanpa Raymond, PSIM tak memiliki pemain yang bertugas memutus alur serangan sekaligus berperan sebagai filter di depan garis pertahanan mereka. Celah di sektor tengah PSIM ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh Persebaya.

Dua double pivot PSIM yang pada laga kemarin diisi oleh Andi Dwi Kurniawan dan Dimas Priambodo tak mampu mengimbangi dominasi lini tengah tuan rumah yang dimotori Misbakhus Solikin, Muhammad Hidayat dan Abu Rizal Maulana. Memenangakan duel krusial di lini tengah membuat Persebaya nyaman mengendalikan permainan. Misba Solikin kembali menjadi sosok sentral yang menjadi dirigen dari alunan serangan Persebaya. Misba nampak semakin menikmati peran sebagai playmaker yang bermain lebih dalam. Kombinasinya dengan Muhammad Hidayat membuat Persebaya bisa mengunci area tengah. Sementara Abu Rizal “Rodeg” dengan bekal eksplosivitas serta daya jelajahnya yang tinggi bermain apik sebagai gelandang free role. Ketiga gelandang Green Force itu sukses menekan lini tengah PSIM dengan pressing tingggi.

Dominasi lini tengah Persebaya atas PSIM membuat Hendika Arga (AMF) tak bisa berfungsi maksimal. Pun demikian dengan suplai bola ke Dicky Prayoga (winger kanan) dan Rachman Purwanto (winger kiri) yang praktis terputus. Sadar kalah duel di lini tengah, PSIM pun lebih banyak memainkan direct pass dari belakang ke sayap, atau umpan-umpan diagonal yang langsung tertuju ke Dicky maupun Rachman.

Gol pertama Persebaya yang dicetak oleh Oktafianus Fernando pada menit ke-15 merupakan bukti “kemenangan” lini tengah Bajul Ijo atas Laskar Mataram. Irfan Jaya yang menerima bola dari lini tengah bisa dengan leluasa melakukan drive ke dekat kotak penalti PSIM. Irfan yang punya kecepatan tinggi berhasil memanfaatkan ruang kosong antara bek dan gelandang PSIM. Dikawal tiga pemain, Irfan dengan jitu memberikan through pass ke Yogi Novrian yang sukses menembus jebakan offside pertahanan PSIM. Bukannya menembak, Yogi justru secara cerdik memberikan umpan lambung yang cukup deras yang akhirnya menipu para bek PSIM. Umpan Yogi tepat menemui Oktafianus Fernando yang datang dari blind side. Dengan footwork prima, Ofan mampu menipu due bek PSIM sebelum melepaskan tembakan terukur yang tak bisa dibendung oleh Ivan Febrianto.

Unggul cepat di limabelas menit pertama membuat tuan rumah bermain lebih leluasa. Sementara sang tamu sesekali memanfaatkan serangan balik dari dua sayap mereka. Hasil tekanan Persebaya kembali berbuah gol pada menit ke 43. Edo Pratama yang berniat menutup ruang tembak Irfan Jaya justru membuat bole menyentuh tangannya. Wasit pun menunjuk titik putih sebagai tanda tendangan penalti untuk Persebaya. Misba Solikin dengan baik mengeksekusi penalti, sekaligus mencatatkan gol kedelapannya musim ini. Bajul Ijo unggul dua gol sebelum turun minum.

Pesan PSIM untuk Lini Belakang Persebaya

Dibayangi rekor away yang terhitung buruk, rupanya tak membuat PSIM inferior kala melawat ke kandang Persebaya. Justru pada laga kemarin PSIM seperti memberikan pesan tersirat kepada tuan rumah, khususnya untuk lini belakang Persebaya.

Meski tanpa didampingi pelatih kepala Erwan Hendarwanto, namun Laskar Mataram tetap bermain dengan cara “The Erwan Hendarwanto Way”. Bukannya tampil bertahan, PSIM justru meladeni permainan tuan rumah. Melihat Persebaya memainkan garis pertahanan tinggi, PSIM dengan telaten mengeksploitasi titik terlemah Persebaya malam itu, yakni area half space (ruang antara center back dan full back) terutama di sisi kanan yang merupakan area Andri Muliadi dan Kurniawan Karman. Apalagi, taktik jebakan offside Persebaya pada pertandingan kemarin tak berjalan dengan baik.

Lemahnya koordinasi lini pertahanan Persebaya terlihat pada menit ke-12. Rachman Purwanto berhasil mengelabui jebakan offside tuan rumah. Peluang PSIM ini bermula dari kecerdikan Hendika Arga yang melepaskan umpan daerah ketika melihat 10 pemain Persebaya berada di bidang permainan PSIM. Rachman pun berlari secara diagonal dari area flank ke area half space. Beruntung Miswar Sahputra mampu menahan tembakan jarak dekat Rachman yang sudah dalam posisi one on one di dalam kotak penalti Persebaya. Meski gagal berbuah gol, namun peluang emas PSIM di awal babak pertama seolah membunyikan alarm bagi lini pertahanan tuan rumah.

Tak hanya sekali, PSIM beberapa kali sukses menembus lini pertahanan Persebaya lewat skema yang hampir sama. Apalagi setelah masuknya Rangga Muslim yang agresif mencecar sisi kanan pertahanan Persebaya. Menit ke-70, Engkus Kuswaha memberikan ancaman ke gawang Miswar Sahputra. Kali ini melalui skema tendangan bebas. Engkus memperoleh space untuk menyundul bola setelah salah satu pemain PSIM melepaskan tendangan bebas diagonal yang mengarah ke sisi kanan pertahanan Persebaya. Tuan rumah kembali beruntung karena flying header Engkus tak tepat sasaran.

PSIM akhirnya memang bisa menjebol gawang Persebaya. Pada menit-menit akhir pertandingan, PSIM mencetak gol balasan melalui skema tendangan penjuru. Engkus sukses memanfaatkan kemelut dan lemahnya koordinasi di lini belakang Persebaya. PSIM pun mendapat gol hiburan tepat sebelum wasit meniup peluit panjang.

Kemenangan atas PSIM pun mengantarkan Persebaya tinggal selangkah lagi lolos ke babak 16 Besar. Bagi PSIM, meski akhirnya gagal menang dan membuat peluang mereka untuk lolos ke 16 Besar semakin berat, namun Laskar Mataram memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Persebaya. Ya, Persebaya harus segera mengevaluasi kinerja lini belakang mereka.

Persebaya sendiri cukup beruntung karena mendapat lawan-lawan yang tergolong kuat sejak fase grup. Hal ini membuat staf pelatih Bajul Ijo bisa sedini mungkin memindai apa saja kekurangan tim dan apa saja yang masih menjadi titik lemah Persebaya. Persebaya pun masih memiliki dua sisa pertandingan di babak penyisihan. Masih ada cukup waktu untuk evaluasi, sebelum nanti Persebaya menatap babak selanjutnya. Seperti yang diungkapkan oleh Rafsan Jani dalam tulisannya Persebaya dan Bonek Membutuhkan “Kekalahan”. “Kemenangan akan menghampiri bagi mereka yang mempersiapkan dan mengevaluasi dirinya sendiri dengan sesungguh-sungguhnya. Karena kekalahan bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bersiaplah untuk menang.”  Wani!