Distribusi Tiket Kacau, Siapa Yang Salah?

Ajang Celebration Game yang akan dilakukan Sabtu 9 Desember 2017 di Gelora Bung Tomo menarik perhatian semua pihak. Persebaya yang baru saja menjuarai Liga 2 akan melawan PSS Sleman. Kedua kesebelasan dikenal mempunyai suporter yang sangat militan dan royal dalam mendukung timnya.

Euforia juara masih terasa. Hal ini membuat tiket pertandingan menjadi buruan para suporter. Kuota Sleman Fans yang hanya 3.500 lembar habis terjual dalam hitungan jam. Ribuan Sleman Fans lain bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Di media sosial banyak permintaan dari Sleman untuk menambah kuota tiket. Mereka juga merindukan satu tribun dengan Bonek setelah sekian lama tidak pernah bertemu dalam ajang resmi.

Sementara yang paling mengejutkan adalah justru di Surabaya. Tiket fans seharga Rp 35.000 telah sold out hanya dalam waktu dua hari. Sekitar 10 ticket box yang disediakan sudah tidak melayani penjualan tiket. Ribuan Bonek baik di Surabaya dan sekitarnya kecewa belum mendapatkan tiket. Belum lagi dari Bali dan Kalimantan yang sudah memesan tiket pesawat tetapi belum mendapatkan tiket pertandingan.

Benarkah tiket habis terjual pada suporter?

Dalam dua hari kemarin, antrian di tiap ticket box memang terjadi. Dalam aturan tak tertulisnya, setiap orang hanya diperbolehkan membeli sejumlah maksimal empat tiket. Tetapi kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda. Ada satu orang yang bisa membeli lebih dari sepuluh tiket secara langsung. Ini tentu menjadi masalah tersendiri atas distribusi tiket kepada suporter.

Penunjukan agen oleh panpel Persebaya sudah benar karena merata dan ada di tiap sektor kota Surabaya. Yang menjadi masalah justru ada di masing-masing agen ticket box. Mereka sepertinya hanya menginginkan jumlah secepatnya terjual habis. Sedangkan panpel tidak mengawasi dan supervisi langsung pelaksanaan di lapangan.

BACA:  Harapan Persebaya Digantungkan Pada Pemain Muda

Agen tentu tidak sampai jauh memikirkan ke mana lari atau terjualnya tiket tetapi seberapa cepat mereka menjual jatah tiketnya. Sudah tentu mereka juga mendapatkan fee dari penjualan tersebut.

Karena itu, ajaklah agen yang berpandangan luas sehingga tidak asal menghabiskan jatah tiket tetapi juga keadilan dalam distribusi.

Ini adalah pembelajaran baik untuk panpel agar di Liga 1 nanti, ada pengawasan kepada agen penjual tiket. Atau juga mencari jalan lain dengan bekerjasama dengan tiap sektor tribun. Di mana dalam tiap sektor tribun ada banyak komunitas. Teknis pendistribusian bisa dicarikan solusi terbaik termasuk cara pembelian dan pembayarannya.

Tidak ada gading yang tak retak. Selalu lakukan evaluasi dan pembenahan untuk persiapan Liga 1 nanti. Akan banyak partai besar dan panas. Jika tidak dilakukan langkah tepat kejadian seperti Celebration Game ini akan terulang kembali. Berbenahlah secepatnya!

Salam Redaksi

Facebook Comments