Uneg-Uneg Bonek, Mengapa Pemain Persebaya Kehilangan Spirit dan Mudah Kelelahan Fisik

260
Tri Nugroho, salah satu peserta diskusi. Foto: Rama
Shares

Kompetisi Liga 1 di tahun 2019 telah bergulir. Persebaya Surabaya dalam 3 pertandingan awal kompetisi mendapatkan hasil yang dianggap mengecewakan oleh suporternya. Persebaya menelan kekalahan satu kali saat away melawan Bali United serta ditahan imbang oleh Kalteng Putra dan PSIS Semarang pada dua laga home di Gelora Bung Tomo (GBT).

Untuk menyikapi hasil tersebut, Bonek Writer Forum (BWF) mengadakan halal bi halal yang dikemas dengan bincang santai dengan tajuk “Persebaya Kapan Menange?” di Prapen Kopi, Surabaya (13/6/2019). “Bincang santai ini awalnya tercetus dadakan melalui grup WA, namun karena antusiasnya luar biasa, pada akhirnya sekalian dijadikan untuk menumpahkan uneg-uneg untuk Persebaya, klub kebanggaan kami semua yaitu Bonek,” tutur Dhion salah satu punggawa BWF.

Persebaya merupakan klub yang sampai saat ini leading dalam hal penjualan jersey termahal, penjualan jersey terbanyak, dan ditonton oleh suporter terbanyak di Liga 1. “Tim sebesar ini yang memiliki sejarah besar dan se-suistanable ini dalam pertandingan awal berada di peringkat bawah jelas bukanlah capaian yang bagus. Jelas ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi bonek semua. Permainan Persebaya tidak ada gregetnya. Amido Balde sebagai target man juga tidak memiliki back up sehingga Persebaya tumpul di lini depan. Apa yang salah dengan ini semua,” tanya Kukuh Ismoyo mengungkapkan uneg-unegnya.

Senada dengan Thomas, Bonek yang hadir dalam bincang santai malam itu menggarisbawahi bahwa Djanur harus harus mendapatkan back up pemain yang berkualitas di tiap posisi baik di lini belakang sampai depan, terlebih khusus juga penjaga gawang harus dikuatkan. “Pemain Persebaya saat ini juga harus fight seperti dulu main di Gelora 10 November. Kalah bukanlah masalah, asalkan pemain bermain fight dan tidak klemar-klemer.” Kenangnya membadingkan.

BACA:  Persebaya Harus Berani Memainkan Pemain Muda Binaannya

Sementara itu, Tri Nugroho dan Aris Sasa mengamati Persebaya selama ini tidak jelek-jelek amat dalam bermain. Akan tetapi motivasi bermain untuk tim kebanggaan harus terus muncul dalam 90 menit di atas lapangan hijau. “Harus punya semangat tanding kuat. Baik pemain dari internal maupun pemain asing,” ungkap Aris.

“Pemain Persebaya bermain seperti tanpa fighting spirit. Bermain biasa saja. Hal ini harus dicarikan solusi sehingga termotivasi kembali untuk memenangkan pertandingan. Dua kali home mendapatlkan hasil draw itu sebuah kerugian bagi tim.” Ujar Tri.

Persebaya sebenarnya telah melakukan evaluasi dan kemudian pelatih fisik Persebaya, Rudy Eka diberhentikan. Dalam catatan Dhion dan BWF, Persebaya mampu bermain baik dalam 10-15 menit awal. Namun tidak adanya ketajaman lini depan membuat Persebaya tidak bisa leading dalam gebrakan awal bertanding. Sementara itu, pada menit ke 60-an, pemain Persebaya banyak yang drop. Berbeda dengan musim lalu yang mengalami kelelahan fisik memasuki menit ke 70-75.

Tentunya, Hal ini dinilai oleh peserta diskusi semakin membuat Persebaya pusing karena banyak pemain yang mudah cedera dan itu jelas akan mengurangi kekuatan Persebaya. Tujuh pemain persebaya juga harus dipanggil timnas. Ayo Persebaya bermainlah dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Bonek rindu kemenangan. (*)

Facebook Comments