Manajemen Persebaya Harus Belajar dari Bali United

gua-manajemen
Ilustrasi foto: iwe

Perubahan itu harus dijemput. Ia tidak bisa ditunggu – Ridwan Kamil

Tahun 2016 sudah memasuki hari keduanya dan manajemen Persebaya tetap berada dalam goa di dalam tanah. Pertengahan tahun lalu mereka sudah berwacana bahwa akan ada tiga investor yang masuk ke Persebaya Surabaya. Tapi, sampai sekarang investor yang dimaksud tidak jelas batang hidungnya.

Alasannya, para investor menunggu apakah ada kompetisi yang bisa diikuti apa tidak.

Membaca berita Kompas, 2 Januari, Bali United telah mengikat kontrak 20

pemain untuk musim yang akan datang. Padahal, belum jelas apakah pada 2016 liga akan diputar. Kenapa klub baru ini mampu dan bisa melakukan itu? Kenapa Persebaya tidak bisa melakukanya? Kenapa manajemen sampai saat ini baru bisa memberi janji?

Lebih kaget lagi membaca pernyataan Direktur Utama PT Persebaya Indonesia Cholid Ghoromah di harian Jawa Pos, juga 2 Januari. Dia mengatakan, Persebaya menunggu undangan turnamen Piala Gubernur Kaltim. Kenapa masih berfokus ke turnamen sedangkan klub tidak punya pemain resmi?

Tahun 2015 sudah diisi dengan ujicoba yang banyak sampai-sampai Bonek menyebutnya sebagai sirkus keliling. Persebaya hanya fokus pada turnamen-turnamen kecil dengan memanfaatkan para pemain yang sebagian besar tidak muda lagi.

Melihat dari luar, manajemen Bali United memang dikerjakan secara sungguh-sungguh dan benar mulai awal pembentukannya. Maka tak heran di samping sokongan dana dari pemilik saham, mereka juga mendapatkan sponsor dari luar.

Bagaimana dengan Persebaya? Sebagai pemilik saham mayoritas sebesar 50 persen, Saleh Ismail Mukadar seharusnya bisa memberikan modal awal sebesar sahamnya. Kemudian diikuti Cholid 30 persen, dan Koperasi (klub internal) sebesar 20 persen bisa menyuntikkan modal awal.

Tapi yang mereka lakukan selama ini hanya menunggu dan menunggu investor datang. Sederhana saja. Bagaimana investor mau masuk seandainya pengelolanya diam saja seperti tidak serius dan jalan di tempat?

Bukan hanya saat ini saja mereka pasif. Sudah tiga sampai empat tahunan. Manajemen sebaiknya belajar dari klub-klub lain. Mencontoh dari yang sudah ada, diambil yang baik, tidak ada salahnya.

Selama ini manajemen hanya berkutat pada sosok Cholid Goromah, Saleh Mukadar, Chusnul Faried, Saleh Hanifah, dan Ram Surahman. Kegagalan tahunan sudah didapatkan. Masih pantaskah mereka akan dipertahankan?

BACA:  Balasan Surat Terbuka, Saleh: Saya Tidak Bertanggung Jawab Pada Persebaya

Tahun Baru, manajemen baru

Memasuki Tahun Baru alangkah indahnya jika mereka secara sadar diri mengaku kegagalannya menjalankan roda manajemen. Segeralah melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS). Bentuklah manajemen baru dari semua stakeholder sepakbola yang berpengalaman ataupun mau belajar. Bisa dari internal maupun dari luar atau professional. Penataan dimulai lagi. Susun lagi visi misi untuk Persebaya.

Kepercayaan investor bisa muncul dari pembentukan manajemen baru yang lebih solid dan mau bersungguh-sungguh mengelola Persebaya secara benar dan menguntungkan. Kata menguntungkan harus dicantumkan karena investor menanamkan modal karena alasan komersial.

Untuk pemilihan pemain, bisa mencontoh sekali lagi dari Bali United. Mereka banyak mengikat pemain muda dengan kontrak lebih dari dua tahun bahkan sampai empat tahun. Ini namanya investasi.

Persebaya tidak akan kekurangan calon pemain karena dari berbagai klub amatir di kota ini melimpah. Dengan memberi pemain muda kesempatan, juga memberi ruang untuk keuangan yang tidak begitu besar. Saat ini pemain level nasional sudah terlalu mahal untuk dikontrak klub seperti Persebaya yang sedang belajar berjalan.

Pasar utama dari jualan Persebaya adalah Bonek. Ini sumber utama pemasukan karena mereka adalah customer yang loyal dan jumlahnya sangat banyak. Karena itu, Persebaya bisa digarap secara menarik dan dapat menyentuh hati mereka. Fungsi komunikasi dengan Bonek harus lebih baik dari sebelumnya. Baik secara langsung maupun lewat pengelolaan media sosial yang interaktif.

Pasar yang sudah ada bisa dimaksimalkan untuk pendapatan secara tunai, baik dari segi merchandise, tiket stadion, dan yang tak kalah penting adalah dukungan total Bonek untuk Persebaya.

Tidak usah memikirkan kejelasan tentang federasi atau kompetisi. Menpora dan Tim Transisi yang bekerja lamban dan tidak jelas arahnya saja tidak tahu akan ke mana. Fokus saja pada diri sendiri, jangan berharap pada negara. Bekerjalah dari dalam. Perbaiki sumber daya manusia dan sistemnya.

Jika semua sudah berjalan baik dan tertata, akan lebih mudah menarik investor. Jangan takut melakukan perubahan ke arah lebih baik. Perubahan adalah suatu keniscayaan. Tanpa perubahan dunia tidak akan berputar dan berkembang.

Facebook Comments