Selamat Datang Kembali, Persebaya!

Saat tulisan ini saya susun, sudah tak terhitung lagi berbagai dokumentasi yang saya dapatkan berupa kumpulan foto maupun tulisan dari dulur-dulur (saudara-saudara) Bonek yang penuh suka cita, optimisme, dan kebanggaan menyambut saat-saat kembalinya tim yang mereka banggakan, Persebaya. Kalau saya, tak perlu ditanya, termasuk salah satu diantaranya.

Tulisan ini juga saya susun secara spontan karena begitu senangnya menyambut putusan Executive Commitee (Exco) PSSI yang akhirnya memberi izin kepada Bajul Ijo untuk berlaga di Divisi Utama mulai musim kompetisi 2017.

Memang itu hanyalah kompetisi sepakbola kasta kedua di tanah air, tetapi setidaknya ini adalah awal baru, era baru setelah sekitar empat tahun Persebaya dipaksa ‘mati suri’. Lagipula, jika klub asal Surabaya harus berlaga di kasta terbawah sekalipun, antusiasme ini tak akan berkurang kualitasnya.

Rasa kebanggaan dan kemenangan yang dirasakan oleh Bonek jelas tidak perlu dipertanyakan kualitasnya. Mungkin ini perasaan yang sama saat arek-arek Suroboyo berhasil mengusir penjajah Belanda, mungkin juga sama dengan rakyat Indonesia ketika Bung Karno membacakan naskah Proklamasi. Perjuangan Bonek sungguh luar biasa.

Bukan hanya perjuangan orasi ataupun fisik, namun juga segala kemampuan intelektual dikerahkan. Tak hanya berdemo atau memboikot pertandingan ‘Persebaya abal-abal’, mereka juga berjuang melalui media massa, media sosial, berbagai tulisan di website dan blog. Apapun bentuk dan kontribusinya untuk Persebaya, mereka akan lakukan, tak peduli sekecil apapun itu. Suara satu orang Bonek sangat berarti.

Saya tak akan menuliskan ulang cerita masa lalu, saat bagaimana klub yang seringkali melahirkan para pemain muda berbakat ini didzalimi oleh PSSI. Itu sudah masa lalu. Lagipula anda pasti bosan membacanya (baca tulisan saya berjudul: Ketika Dualisme dan Perdebatan Persebaya Seharusnya Berakhir). Namun nyatanya, rapat Exco PSSI yang berlangsung pada 6 September 2016 di Solo memutuskan bahwa Persebaya akan berlaga di Divisi Utama mulai musim kompetisi 2017.

Selanjutnya keputusan ini akan disahkan pada Kongres PSSI yang rencananya akan berlangsung di Makassar, 17 Oktober 2016. Dengan demikian, perjuangan Bonek yang luar biasa gigihnya itu akhirnya bermuara pada hal positif dan juga membuktikan satu hal: Jangan pernah mencari masalah dengan arek-arek Suroboyo yang terkenal ngeyel (gigih; keras kepala). Ke-ngeyel-an mereka sudah teruji saat pertempuran 10 November 1945.

BACA:  Bajul Ijo Menerkam Calo

Bukan tanpa alasan Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan. Namun tentu saja kemenangan ini bukan hanya milik Bonek yang berada di Surabaya semata, tapi juga jutaan Bonek lain di penjuru tanah air, bahkan dunia. Perjuangan Bonek menginspirasi kelompok supporter lain untuk tak pernah takut melawan para mafia bola karena pada akhirnya, people power -meminjam istilah People Power Revolution yang terjadi di Filipina tahun 1986- pasti menimbulkan efek mayor.

Lantas, apakah perjuangan Bonek yang mencapai puncaknya saat aksi Gruduk Jakarta ini bisa diakhiri? Tunggu dulu! Seperti kata Menpora Imam Nahrawi, Bonek masih harus mengawal keputusan Exco PSSI hingga benar-benar bisa direalisasikan pasca kongres Oktober mendatang. Setali tiga uang, Bonek juga telah merencanakan aksi Gruduk Makassar, khusus untuk mengawal jalannya kongres dan memastikan PSSI tidak menjilat ludahnya sendiri.

Selain itu, dari sisi teknis, Bonek sebaiknya membentuk sebuah elemen berbadan hukum untuk membeli sebagian saham Persebaya, sekaligus memastikan bahwa mayoritas saham tersebut berada di bawah kendali klub-klub internal. Lebih jauh lagi, Bonek turut mendukung siapapun investor yang nantinya akan membantu mendanai dan mensponsori Persebaya. Dukungan tersebut tentu saja dalam bentuk pembelian produk sponsor, pembelian tiket dan merchandise resmi, meningkatkan rating tayangan pertandingan Persebaya di televisi, dan sebagainya. Dengan demikian, saya yakin tak sulit bagi Bajul Ijo untuk membangun klub melalui kekuatan finansial dan merajai kembali turnamen dan kompetisi nasional dan internasional.

Setidaknya perjuangan ini sudah mencapai muara, titik terang itu mulai terlihat. Akhirnya, saya yakin, Bonek yang selama ini bersembunyi, dengan segala keterbatasan tidak mampu terlibat dalam berbagai macam demonstrasi, khususnya di Surabaya. Bonek yang hanya mampu berjuang melalui tulisan dan doa (seperti saya), bisa kembali mengeluarkan atribut mereka yang selama ini rapi tersimpan di dalam lemari.

Mungkin kami tak terlihat, tapi kami selalu ada. Kami bukan diam, kami berjuang melalui media, melalui doa, melalui apapun yang kami bisa. Bonek tak pernah sendirian karena kami ada dimana-mana.

Selamat datang kembali, Persebaya!

Salam 1 Nyali! Wani!

*) Penulis adalah Arek Bonek (1927), loyalis Persebaya, dan mantan Sekretaris Bonek Medan; Kini berdomisili di Banda Aceh.