Surabaya 10 November Benar-Benar Membara

Selamat malam dulur-dulur bonek di penjuru dunia. Bagaimana hari kalian di tanggal 10 November? Pasti tenang-tenang saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika Persebaya kembali berlaga.

Berbekal coretan di kertas Sidu dengan tanda tangan bermaterai, hampir 99 persen hati kalian tenang. Peserta Gruduk Jakarta jilid II pun tak sebanyak jilid pertama. Ya harapan kita sama, di hari pahlawan ini kita sama-sama ingin mendengar kabar bahagia. Singkatnya, ingin mendapat kado terindah. Tapi nyatanya? Hoax… Pembohong… Munafik… Ya, induk sepak bola kita rasa-rasanya sedang sakit. Sakitnya sangat akut.

Benar saja, hati yang mulanya tenang menjadi gundah gulana. Rasanya penantian 6 tahun dikhianati oleh sekelompok orang yang tak bertanggung jawab. PSSI kembali berulah, ingin sekali saya berteriak di telinga petingginya: “Anda salah memilih musuh, bung!”

Saya sendiri bukan orang yang pandai berpolitik ala Hillary Clinton. Saya hanya bonek arus bawah yang hanya tahu apa itu perjuangan. Tapi ketika perjuangan saya dinodai, jangan sekali-sekali anda berharap saya diam, atau barangkali Bonek-Bonek sejagad raya diam.

Ah, sosmed memang ajib, sekali berkata, jalan. Benar sekali, tanpa dikomando, kami pun berkumpul di pusat kota. Kami berangkat membawa amarah, yang sejatinya sudah kami simpan dalam-dalam di rumah. Tetapi kalian semua, penguasa busuk, yang memaksa kami membawanya kembali.

Mohon maaf kepada warga Surabaya, malam ini perjalanan kalian terganggu. Mohon maaf, kami memenuhi jalanan dengan atribut dan warna khas kami. Mohon maaf, amarah kami sedikit mengganggu aktifitas kalian semua malam ini. Kami hanya ingin melawan ketidakadilan. Kami hanya menuntut keadilan yang telah dijanjikan oleh undang-undang negara kita, bahkan menjadi salah satu landasan di dalam Pancasila. Tidak sedikit materi, tenaga, dan waktu yang kami keluarkan selama 6 tahun ini.

BACA:  Operator, Segeralah Rilis Jadwal Liga 2!

Untuk teman-teman suporter se-Indonesia, rival maupun sahabat, apakah kalian diam saja? Apakah kalian ingin melihat kebobrokan ini terus terjadi. Mungkin untuk saat ini tim kami yang kena, tapi apakah kalian menunggu tim kalian di dzolimi seperti kami untuk melakukan aksi? Kalian bisa menilainya sendiri. Tujuan kita sama, ingin kompetisi persepak-bolaan yang sehat bergulir di negeri ini.

PSSI benar-benar sakit teman. Jadi jangan diam saja. Istilah diam itu emas sudah tidak berlaku. Walaupun kita suporter yang tidak mengeyam pendidikan tinggi, setidaknya kita bukanlah suporter yang asal joged. Tutup mata dengan kondisi saat ini, tapi jadilah suporter yang benar-benar suporter. Jangan mau tim kalian ditunggangi oleh mafia tak bertanggung jawab yang hanya mengharapkan materi dalam kebanggaan kita terhadap tim.

Ah, sudahlah. Pilihan ada di tangan kalian. Intinya, dis ini kami tetap berjuang. Entah sampai kapan. Yang pasti sampai keadilan benar-benar ditegakkan di negeri ini.

Salam satu nyali! Wani!

***

*) Dari Mbah Tessy BHC, ditulis setelah kecewa melihat kebobrokan moral bangsa ini.