Laga Mental Menyapa Rival, Belajar Bareng Mahesa Jenar

Pemain muda Persebaya Irfan Jaya mengambil tendangan sudut di Stadion Jatidir. (Foto: Ervan Tria/EJ)

Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri. Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa risiko kalah. Kenali bumi, kenali langit, dan kemenanganmu akan menjadi lengkap (Sun Tzu).

Sore itu di Stadion Jatidiri, beribu suporter menjadi saksi terjadinya laga besar antar tim yang memiliki akar sejarah panjang. Pendukung tim berwarna biru berdiri dengan gesture gagah melihat tim tuan rumah yang dicintainya berlaga. Di sisi lainnya, kelompok suporter yang didominasi warna hijau atas nama Bonek pun menyaksikan tim berjuluk ‘Bajul Ijo’ dengan penuh wibawa. El Classico, sebutan yang layak disematkan untuk mengapresisi laga ini, telah membuktikan kualitas bombastisnya atmosfer pertemuan dua tim legendaris Indonesia. Keduanya mampu menarik pecintanya masing-masing dari berbagai kalangan usia, pun wilayah. Tanggal 12 Maret 2017 telah menegaskan kepada kita untuk tidak pernah melupakan asyiknya pertemuan setelah sekian lama terpisahkan, juga indahnya jual-beli taktik gerakan meski sudah mengantongi harta “gelar kejuaraan”.

Ya, Persebaya berjabat tangan kembali dengan PSIS Semarang, sang rival yang dulu tak pernah bisa dikalahkan olehnya setiap kali jumpa di final. Berstatus sebagai tamu, Persebaya dijamu dengan sungguh-sungguh oleh PSIS, baik melalui hidangan pertandingan di lapangan maupun sapaan hangat dari suporter si Mahesa Jenar, julukan  PSIS, di tribun. Berkarakter “ganas saat menyerang” dan “tangguh kala bertahan”, Persebaya sangat diunggulkan untuk menyarangkan gol ke jala lawan. Bermodalkan nama “sang Digdaya Piala Dirgantara”, skuad berjuluk Green Force tersebut memiliki kans tinggi untuk melambung lagi. Hampir bisa dipastikan semua pihak meyakini proses terhapusnya ‘kegagahan PSIS Semarang atas Persebaya Surabaya, terutama kejadian saat PSIS mengalahkan Persebaya 8 gol tanpa balas di Stadion Gelora 10 November, dalam laga Friendly Match secara home-away tersebut. Akan tetapi, ekspektasi tak selalu berbanding lurus dengan realita, status juara Dirgantara tak bisa menjadi jaminan senjata utama. Dan lumpia masih belum bisa dikunyah oleh buaya.

90 menit laga memberi bukti skuat PSIS yang jauh bermain ciamik dibanding Persebaya. Meski banyak teriakan dari bangku pendukung Persebaya mengenai buruknya kepemimpinan wasit, tetap saja harus diakui secara baik dan jujur tentang permainan Persebaya yang memang terlihat kurang gesit. Lihat saja prosesi terjadinya gol PSIS yang berhasil dicetak dengan mulus lewat kepala M. Yunus. Terdapat kelemahan lini belakang untuk mengantisipasi bola atas dari lawan, suatu evaluasi yang banyak disampaikan oleh Bonek dalam beberapa kesempatan. Walaupun dinilai faktor lapangan yang becek menjadi salah satu penyebab kegagalan Persebaya untuk menguasai laju pertandingan, namun musti disadari bahwa permainan tengah Bajul Ijo agak kurang menampakkan kelihaian. Bagaimanapun santernya pengakuan pelatih tentang skuad yang turun notabenenya berasal dari lapis dua, tetapi seyogyanya diinsyafi tentang pergerakan pemain sayap dan depan yang masih kebingungan untuk melakukan trik gocekan sulap dan memanfaatkan peluang dengan cemerlang.

Berbicara Mental

Mengawali sub bahasan ini, penulis ingin menyajikan sedikit tentang landasan yang menyebabkan digunakannya kata “mental” di judul tulisan. Jika menggunakan kerangka mentalitas ala Koentjaraningrat (1974), mental merupakan cerminan dari sistem budaya yang dianggap menjadi pedoman sakral bagi setiap komponen dalam suatu lingkaran sosial. Sistem budaya mengandung nilai yang mendasari setiap ide, pikir, perilaku, dan karya manusia. Mengenai sistem nilai budaya ini, Koentjaraningrat mendasarkan diri pada pengalaman pribadinya, hingga membuat identifikasi, yang tampak ambigu, mengenai mental bangsa Indonesia, salah satunya yakni “mental meremehkan mutu”.

Tampaknya tuduhan dari Koentjaraningrat tersebut bukan lahir dari kekosongan. Ia mencoba memberikan identifikasi mental berdasar pada budaya yang sedang menyelimuti msyarakat Indonesia. Adanya globalisasi dengan membawa gaya individualistik lewat perambahan teknologi di semua lini terlihat menjadi penyebab utama argumentasinya. Masyarakat yang dininabobokkan dengan semua praktek instan dengan tanpa diajarkan untuk berproses sesuai dengan target yang dicitakan, kemudian membatasi diri dengan dinamika sekitar dan beralih pada sebuah anggapan “yang terpenting terpuaskan”. Maka selanjutnya, karena sudah membatasi diri dengan interaksi sosial dan dinamika masyarakat lokal, keadaan demikian berefek pada sifat tidak evaluatif terhadap perilaku diri, sekaligus juga tidak bisa merefleksikan sekitar. Hal tersebut terbukti dengan realita yang kebanyakan sering kali kita saksikan. Banyaknya orang yang silau dengan gelar dan kedudukan, tapi lupa tentang caranya memanfaatkan semua itu secara reflektif, kebiasaan tidak menggunakan nalar evaluatif dan korektif dalam perjalanan mencapai tujuan, dan kejumawaan yang terlampau sering ditampakkan oleh orang yang menganggap dirinya tinggi dibanding dengan lainnya, merupakan mental irlander (arti mudahnya: terjajah) yang berhasil disusupkan oleh penjajah untuk mengkonstruk masyarakat Indonesia.

BACA:  Persebaya dan Bonek Baru, Menjemput Impian Menjadi Kenyataan

Dalam sejarahnya, Indonesia memiliki catatan heroik dari para pahlawannya terkait dengan usaha membuang mental paling berbahaya tersebut (baca: irlander). Selain yang terlihat nyata seperti dalam orasi-orasi, para pahlawan juga menggalakkan usaha itu dalam bentuk perilaku dan karya, bagian dari kebudayaan seperti paparan Koentjaraningrat. Salah satu kedahsyatan hal ikhwal tentang itu yang jarang mendapat perhatian dari para analis adalah mengenai pembentukan berbagai klub sepak bola rakyat untuk melawan dominasi klub kolonial Hindia-Belanda, termasuk Surabaya dengan SIVB-nya di tahun 1927.

Konklusi Pelajaran

SIVB, cikal bakal Persebaya, dibentuk sebagai alat propaganda anti marginalisasi di dunia sepak bola sebagai akibat dari sikap superioritas sepak bola penjajah. Masyarakat yang menaruh kecintaan terhadap kemerdekaan merasa geram dengan pembatasan-pembatasan berikut keangkuhan dan kejumawaan kolonial. Bersumbu dari kecintaan berupa nasionalisme yang disulut dengan korek api persepakbolaan, maka terlepaslah tali penjajahan dari leher mereka, hingga mencapai puncaknya pada 10 November 1945. Segala budaya buruk yang dicontohkan penjajah terhapuskan seiring dengan penegasan atas identitas dan mentalitas khas Indonesia. Perilaku meremehkan orang lain seperti saat penjajah menganggap budak bangsa Indonesia, sudah tergantikan dengan laku ngajeni liyan sebagai sistem nilai budaya masyarakat bumi pertiwi.

Oleh karena mentalitas Persebaya lewat embrionya yakni SIVB bercirikan melawan budaya “meremehkan” dengan penuh keberanian, maka kaitannya dengan laga PSIS vs Persebaya, skuad asuhan coach Iwan datang pun seharusnya dengan tanpa rasa kejumawaan. Meski gelar juara Dirgantara menjadi bukti ciamiknya permainan, bukan berarti Persebaya dilihat sebagai yang superior dibanding tim lawan.

Bagaimanapun dalam pertandingan sepak bola, meminjam strategi ke-27 Sun Tzu, “pura-pura menjadi seekor babi untuk mendapatkan macan” adalah cara yang layak untuk ditempuh Persebaya agar terlihat oleh lawan sebagai tim biasa saja, padahal dalam kenyataannya memiliki senjata pamungkas untuk kemenangan sempurna. Hal tersebut tampaknya justru dipraktekkan dengan penuh ikhtiyath (kehati-hatian) oleh PSIS. Pemberitaan dari situs yang meninggikan Persebaya dimanfaatkan oleh PSIS untuk menata dan memberi kejutan bagi tamu. Laksana strategi ke-13 Sun Tzu yang berbunyi “kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya”, PSIS yang awalnya buta strategi Persebaya, ternyata mampu melakukan serangan untuk membongkar kekuatan dan kelemahan tim heroes city itu.

PSIS telah mengajarkan pada Persebaya akan pentingnya menjadikan mental menang tanpa ngasorake sebagai pondasi membangun nama besar. Rival tua sudah menegaskan kepada Mat Halil, dkk akan kekuatan i’tikad yang dijalankan secara sistematis. Mahesa Jenar dengan penuh bangga membisikkan ke telinga kita, bahwa “kemenangan tim dapat dicapai dengan kesungguhan mental petarung dan taktik yang baik, tidak melulu pada komposisi pemain yang dianggap apik”.

Akhirnya, Pantang menyerah, dan terus semangatlah. Green Force Persebayaku, jadilah kau nomor satu. (Penggalan Chant “Persebaya Jadilah Nomor Satu”).

Salam Satu Nyali! Wani!

*) Ferhadz Ammar Muhammad, Kalijaga Class Bonek Jogja