Perlukah Pelarangan Flare Dalam Stadion?

Misbakhul Solikhin melakukan selebrasi dengan menyalakan flare di atas gawang. (Foto: Ervan Tria/EJ)

Seusai meraih gelar juara Dirgantara Cup, para pemain, pelatih, dan ofisial Persebaya bergegas mendatangi tribun utara Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, di mana konsentrasi Bonek berada. Mereka memberi salut kepada Bonek yang setia mendukung Persebaya sejak babak penyisihan hingga final.

Di tribun, Bonek menyalakan flare menambah heroik dan epik malam itu. Misbakhul Solikhin dan Sidik Saimima menaiki gawang Maguwoharjo merayakan kemenangan. Bonek memberi flare kepada Solikhin yang kemudian ia kibas-kibaskan di atas gawang. Malam yang sempurna di mana Persebaya menjadi juara setelah sekian lama vakum dari sepak bola.

Seperti pada pertandingan-pertandingan lainnya, flare selalu menjadi barang favorit para suporter. Barang yang sebenarnya digunakan untuk suar keselamatan di tengah laut itu menjadi aksesoris yang wajib dibawa masuk stadion.

Saat pergelaran turnamen Indonesia Soccer Championship 2016, penyelenggara kompetisi melarang penyalaan flare. Ada denda tinggi untuk tim yang suporternya kedapatan menyalakannya. Beberapa klub menjadi korban denda akibat suporternya ngeyel melanggar aturan itu.

Di Liga Inggris, suporter dilarang membawa dan menyalakan flare saat pertandingan berlangsung. Ancamannya bisa larangan masuk stadion dan penjara bagi yang melanggarnya.

FIFA dan AFC pun melarang flare. Demikian juga AFF (Asosiasi Sepak Bola Asia Tenggara). Indonesia dikenakan sanksi Rp 67 Juta oleh AFF karena pendukung timnas menyalakan flare saat final Piala AFF di Stadion Pakansari, Bogor, Desember 2016.

Perdebatan mengenai pelarangan flare kembali mengemuka seusai pertandingan Persebaya melawan PSIS di Stadion Jatidiri Semarang, Minggu (19/3). Isunya, mata pemain tengah Persebaya, Rendi Irwan, terkena percikan flare yang ia pegang seusai pertandingan. Flare itu diberikan suporter dari tribun timur di mana Bonek berada. Akibatnya, pemain mungil itu mengerang kesakitan dan memegangi matanya. Untungnya tim medis dengan sigap merawat dan ia pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Dokter spesialis mata pun menyatakan kondisi mata Rendi baik-baik saja dan kemungkinan bisa diturunkan Persebaya pada pertandingan kedua melawan PSIS di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (19/3).

Rendi Irwan mendapat perawatan medis. (Foto: Siti BJ for EJ)

Meski pihak ofisial membantah mata Rendi terkena flare dan menyatakan jika lumpurlah tersangkanya, tetap saja flare menyimpan potensi yang berbahaya. Apalagi jika ada pemain yang memegangnya seperti apa yang dilakukan Solikhin saat final Dirgantara Cup. Apa yang terjadi jika flare yang dibawa Solikhin tiba-tiba meledak dan mengenai anggota tubuhnya? Tentu kita tidak berharap hal itu terjadi. Namun sebaiknya pihak ofisial bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk. Pemain adalah aset mahal sebuah klub. Tentu yang namanya aset mahal wajib dilindungi. Cristiano Ronaldo saja mengasuransikan kakinya untuk melindungi asetnya.

BACA:  Flare Menyala Lagi, Persebaya Didenda Rp 15 Juta

Ke depan, pihak ofisial sebaiknya membuat aturan untuk pemain khususnya menghadapi flare. Dan tentu saja aturan untuk suporter. Apakah nanti flare diperbolehkan masuk Stadion GBT saat pertandingan Persebaya?

Manajemen Persebaya membuat kampanye jika nantinya tribun akan ramah untuk wanita dan anak-anak. Wacana pelarangan rokok dalam tribun beberapa waktu lalu dikumandangkan. Sayangnya, banyak suara yang menolaknya. Kemungkinan, rokok masih akan tetap terlihat di tribun-tribun karena manajemen belum secara tegas melarangnya. Demikian juga dengan flare. Meski ada wacana untuk melarannya, namun aturan dari pihak manajemen mengenai flare belum ada dan sejauh ini masih sebatas himbauan.

Bonek di Stadion Maguwoharjo, Sleman. (Foto: Ervan Tria/EJ)

Sebenarnya, apa bahaya flare? Untuk menjawabnya, mari kita tengok para korban tewas akibat flare.

Pada 1992, Guillem Lazaro, bocah Spanyol berusia 13 tahun ini harus meregang nyawa setelah dadanya terkena flare saat menonton pertandingan di stadion di Barcelona. Setahun setelahnya, John Hill, kakek berusia 67 tahun harus kehilangan nyawa akibat flare seusai pertandingan Wales melawan Rumania di Cardiff. 2013, remaja Brazil tewas akibat terkena lemparan flare saat laga Corinthians.

Flare memang menyimpan potensi berbahaya jika digunakan di antara kerumunan. Ia mengandung bahan kimia dan mempunyai temperatur hingga 1.600 derajat celcius, temperatur yang bisa melelehkan baja. Flare juga bisa meledak seperti yang terjadi saat pertandingan Kroasia melawan Republik Ceko di Piala Eropa 2016.

Dengan segala potensi bahaya, flare tetap saja diminati para suporter. Dengan segala cara, mereka “menyelundupkan” flare masuk stadion dan menyalakannya saat terjadinya gol atau selepas pertandingan. Dengan budaya ultras yang kini menjadi tren di kalangan suporter di Indonesia, diperkirakan flare masih akan menghiasi tribun-tribun stadion di tanah air.

Sebelum Liga 2 bergulir pada pertengahan April nanti, manajemen Persebaya sebaiknya membuat aturan tegas mengenai flare. Penyelenggara liga pastinya akan membuat aturan tegas tentang flare. Seperti di ISC, denda dipastikan akan dikenakan kepada klub yang suporternya menyalakan flare dalam stadion.

Di samping mengantisipasi aturan tersebut, pelarangan flare tentu sejalan dengan kampanye manajemen tentang tribun ramah wanita dan anak-anak. Karena stadion bukan hanya milik mereka yang hobi menyalakan flare namun juga milik kakek, nenek, wanita, anak-anak yang tentu saja menginginkan atmosfer pertandingan yang aman dan nyaman. Meski flare enak dilihat karena menyajikan pemandangan yang epik, namun bagi sebagian orang, flare juga bisa mengganggu.

Mari kita hormati hak-hak segala lapisan suporter yang menjadi pemilik stadion. Mampukah?

Facebook Comments