Bonek Melawan Lelucon Liga Senin-Kamis

Satu dua hari terakhir, dunia persepak bolaan di Indonesia kembali dihebohkan dengan lelucon yang kembali diperankan oleh PSSI. Entah apa yang melatarbelakangi semua itu, meskipun publik juga mengetahui rahasia umum “udang dibalik batu”, nyatanya PSSI terus memutar kaset mengulangi segala atraksi kontroversinya.

Berbagai macam reaksi dan lontaran-lontaran mencuat yang itu menjadi trending perbincangan di dunia sepak bola, suporter khususnya yang menjadi magnet sebab besarnya animo dan menganggap sepak bola adalah hiburan merakyat yang sejenak bisa melampiaskan keluh kesah rutinitas.

Kemarin, PSSI mengumumkan tentang segala tetek-bengeknya yang dinamakan regulasi untuk keperluan kompetisi maju mundur yang rencananya akan digulirkan tengah pekan depan. Ketetapan regulasi yang jauh dari harapan bahwa sepak bola adalah milik rakyat hanyalah sebuah omong kosong belaka. Kepentingan keuntungan bisnis dan rating channel TV yang tak jelas jeluntrungannya yang hanya ada di otak pemangku jabatan PSSI telah  semakin melebarkan kemelencengan PSSI dari statuta yang mereka cuap-cuapkan sendiri.

PSSI seolah tak ada keinginan tulus untuk membenahi diri, mengembalikan kepercayaan atau bahkan memberikan prestasi konkrit yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia ke penjuru dunia. Eh jangankan ke penjuru dunia, setingkat Asean aja kalang kabut kok. Bikin malu.

Seperti kebijakan marquee player di klub-klub Liga 1 pun, PSSI seperti mempunyai pemahaman tersendiri atas ya. Jangankan 1 atau 10 marquee player, 1000 marquee player pun apa lalu akan menyelesaikan masalah-masalah klasik PSSI? Jawabannya tidak! Otoritas PSSI bagai bayi yang baru belajar bagaimana caranya berdiri dengan tegak. Untuk berdiri dengan tegak pun rasa-rasanya sulit, apalagi untuk berjalan ataupun berlari kencang, ya? Mungkin hanya terwujud di mimpi-mimpi semu belaka.

Jangan harap ada peningkatan kualitas generasi jika yang menjadi prioritas utama otoritas PSSI adalah ladang bisnis untuk kepentingan golongan “setan”nya sendiri. Ketimpangan-ketimpangan itu menonjol dalam hal jadwal antara liga 1 dan liga 2. Liga 2 seolah menjadi kompetisi anak tiri yang hanya setengah hati mereka pikirkan. Jadwal kick off liga 2 yang direncanakan digulirkan hanya pada hari kerja senin-kamis saja karena tuntutan siaran dan rating tv menimbulkan reaksi kontra di kalangan supporter yang tim kebanggaannya bertarung di kompetisi liga 2.

BACA:  Sebar Cinta Bonek Pada Semua

Yang benar saja, sebagian besar suporter adalah kelas pekerja yang hampir mustahil mendatangi pertandingan atau bahkan rutin tiap seminggu sekali meninggalkan pekerjaanya untuk mendatangi stadion. Para suporter adalah rakyat jelata yang juga kebanyakan menjadi tulang punggung keluarganya. Jadi tidak mungkin akan total mendukung tim kebanggaannya berlaga.

Satu yang jelas melakukan protes keras atas kebijakan regulasi PSSI adalah Bonek, suporter Persebaya. Bonek yang juga baru saja memenangkan perjuangan mengembalikan Persebaya awal Januari lalu, mau tidak mau harus kembali head to head dengan langkah-langkah konyol PSSI. Mental kritis Bonek yang semakin menebal menjadi bekal untuk meyakini yang dilakukan PSSI adalah (mengulangi) kesalahan. Bukan tidak mungkin akan lagi terjadi pengosongan stadion jika otoritas PSSI terus kekeuh menutup telinga aspirasi murni kalangan suporter-suporter Indonesia untuk mengubah kebijakan-kebijakan yang saya rasa sangat tidak bijak.

Harapan bahwa semua elemen suporter menyuarakan kegaduhan yang ada di hatinya adalah untuk menunjukkan bahwa suara suporter memiliki efek yang besar di persepakbolaan  Indonesia. Izinkan dari tulisan ini, penulis menyerukan kepada segenap dulur-dulur suporter untuk satu suara dalam aspirasi tolak liga senin-kamis.

Bonek akan mengawalinya. Dalam waktu dekat, Arek Bonek akan kembali turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya ke publik dan menunjukkan bahwa PSSI masih salah jalan. Menurut informasi yang beredar di sosial media, Bonek akan turun jalan Minggu, 2 April 2017 di Car Free Day (CFD) Jl Darmo mulai pukul 07.00 pagi.

Melalui tulisan ini, penulis mohon maaf kepada masyarakat Surabaya jika kami mengganggu aktivitas selama aksi di CFD maupun ketika pulang pergi ke titik aksi. Nyuwun sewu. (*)