Arek-Arek, Warung Kopi, dan Perlawanan

Jika di daratan Barat sana terkisah sehidup semati antara Rose dan Jack di film Titanic atau bahkan kisah kasih Romeo Juliet yang diperankan Leonardo de Caprio dan Claire Danes, di kota perlawanan Surabaya tak kalah juga terdapat kisah romantis. Kisah arek-arek dan warung kopi yang mereka sendiri pun juga tak sadar jika mereka saling mengerti dan memahami. Dua gatra berbeda yang sama, arek-arek dan warung kopi yang bersendi dinamis tapi tak meninggalkan esensi dari kemahsyuran itu sendiri. Keduanya mampu berkolaborasi laiknya sepasang alas dari sepasang kaki tujuan hingga itu tercapai.

“Rek, engkok bengi yo!”

Sebuah ungkapan, ajakan, lambaian simptom ritual di paku-an bangku lembab yang menyatukan  dua kesederhanaan dan ke-apa adanya-an yang tak dibuat-buat.

Di warung kopi, arek-arek tak harus memesan kopi. Boleh saja menengguk teh, beragam minuman sachet, panas dingin pun tak ada larangan. Menghisap rokok jua sebuah kebebasan entah bersaring atau yang kretek meski harus ber tepo seliro dengan arek lain yang tidak merokok.

Di warung kopi boleh cuma nonton televisi atau cuma numpang cari wifi. Warung berimbuhan kata kopi dengan kebesaran hatinya pun juga menyajikan bermacam gorengan hangat dan kriuk kerupuk yang tercantol di dinding berpaku. Berceloteh ngalor ngidul ngetan ngulon yang cuma basa basi, hingga sambat tuk mengeluarkan isi hati. Diskusi ala politisi yang membahas regulasi, meskipun kadang benak juga tak bertambah sari.

Kedewasaan warung kopi dan juga kematangan memilih oleh arek-arek diselingi cekikik’an canda tawa menjadi nuansa yang boleh penulis bilang, “Suasana se gayeng ini, tak saya dapatkan di tempat lain yang selama ini saya pijak”.

BACA:  Surabaya 10 November Benar-Benar Membara

Apapun ketegangan yang dihadapi, warung kopi tetap tujuan bagi arek-arek. Kedinamisan semacam ini hanya ada di sini, di kota yang sampai detik ini tidak akan memadamkan api perlawanan. Api perlawanan terhadap apapun dan siapapun yang mengusik keharmonian jiwa raga yang mereka jaga dengan sebaik-baiknya.

Awalnya hanya semacam ritual saja, tapi kok arek-arek merasa tersuntik setiap sruputan kopi hitam yang menggelorakan perlawanan kala jiwa raga diusik paksa oleh mereka yang berkuasa. Pekik ke“ayo”an untuk melawan semakin kencang nan masif di setiap sudut-sudut bangku berdebu yang kaku.

Arek-arek dan warung kopi serasa semakin menyatu di tengah bulatan perlawanan yang membara laksana tirta bergolak yang siap diseduhkan bubuk kopi. Sebuah saksi bisu, di setiap yaum, rembulan dan warsa nan menanti ganjaran dari perlawanan atas pesewenang-wenangan ketidakadilan yang melukai prinsip suci arek-arek dan warung kopi yang saling berjanji di hitam konsistennya kopi.

Arek-arek menang di pertarungan akhir, tapi bukan yang terakhir. Arek-arek dengan kawalan kopi kembali siap tuk memandu ke jalan kebenaran yang hakiki. Cercaan adalah pasti yang justru mempertebal langkah percaya diri kami, arek-arek dan kopi. Kemenangan adalah sebuah tradisi merdesa-nya arek-arek dan kopi yang semakin hari semakin satu tak terganti.

Saudara se-warung kopi, kembali genggam keras dan lontarkan ke atas hendaknya mata dunia, ketidakmampuan kita adalah kemenangan atas segala pangestu dan segenggam asa Yang Maha Kuasa. Ayo kembali kita permalukan sampah-sampah yang merusak tradisi kulit bundar kita dan kopi hitam yang setia.

Ini Surabaya, Bung!

Facebook Comments