Memahami Persebaya dan Iwan Setiawan

Sir Alex Ferguson terseok-seok empat tahun pada awal karirnya untuk memberi sentuhan juara ke Manchester United. Begitupula dengan Robert Rene Alberts yang harus terseok lebih dulu di PSM tahun lalu. Sayangnya bermain di Liga 2 tidak bisa sesabar kedua cerita itu.

Satu hasil seri di kandang dan satu kekalahan di tandang jadi catatan perjalanan awal Persebaya. Bukan capaian yang baik untuk kontestan Liga 2. Mengapa? karena persaingan di Liga ini sangat ketat dan keras meski baru awal liga sekalipun. Persebaya tidak sedang bermain di Liga 1 dimana akses media informasi mudah didapatkan karena jangkauannya nasional. Artinya, kita tidak hanya bertanding melawan klub-klub tersebut itu saja. Terkadang di beberapa partai tandang kita juga perlu bertanding dengan keputusan-keputusan para pengadil yang tak tercover oleh media nasional. Tak ayal setiap pertandingan adalah partai hidup dan mati. Mau tak mau satu poin pun amat berharga di liga 2.

Sebelum panjang lebar membaca tulisan ini, yang harus dipahami bersama dan jadi pondasi cara berpikir membaca tulisan ini adalah keunikan konsep Liga 2. Khusus tahun ini kompetisi kasta kedua tersebut hadir dengan konsep grup dimana akan ada degradasi besar-besaran di akhir kompetisi. Dari 61 klub yang ambil bagian di Liga 2, lebih dari setengahnya akan turun kasta ke Liga 3. Lebih tepatnya akan ada 37 klub yang diberi karpet merah untuk turun kasta ke Liga 3.

Pembagiannya seperti ini, peringkat 5 hingga 7 atau 8 (tergantung grup) di Liga 2 akan langsung ambil bagian pada penyelenggaraan Liga 3 tahun depan. Sedangkan 16 klub tersisa dari urutan 3 dan 4 tiap grup akan bertanding di babak playoff. Hanya peringkat 1-5 yang akan bertahan di Liga 2. Urutan 6 sampai 16 dapat tiket langsung menuju Liga 3.

Untuk peringkat 1 dan 2 di tiap grup penyisihan awal sebelumnya, selain sudah pasti bertahan di Liga 2, mereka juga akan mengadu peruntungan di babak 16 besar untuk naik kasta ke Liga 1. Dari situ hanya klub urutan 1 sampai 3 lah di babak 16 besar yang akan naik kelas ke Liga 1. Sisanya kembali mengadu peruntungan di Liga 2 tahun depan. Artinya, ini musim yang sangat sulit untuk seluruh kontestan Liga 2.

Silang sengkarut ekspektasi

Bagaimana dengan Persebaya? Sejak awal klub ini dirongrong waktu dan ekspektasi suporter yang kadang tidak sejalan. Ingatlah klub ini dibentuk mepet, dikejar waktu dan kurang persiapan. Artinya butuh sosok kuat dan berkarakter untuk menghindari si pelatih berlindung dengan alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya. Sejatinya menang kalah itu urusan belakangan, tapi progress itu wajib hukumnya. Semua suporter tahu itu. Jose Mourinho yang notabene jago strategi dan gemar psywar saja belum tentu bisa memberikan Manchester United kemenangan demi kemenangan, bahkan di laga home mereka. Apalagi seorang Iwan Setiawan.

Sayangnya seorang Iwan Setiawan lupa, kalau dirinya bukan Jose Mourinho. Dari catatan karirnya, mendekati pun sebenarnya juga tidak. Harus ia sadari bahwa sebuah pertandingan yang seru itu tidak hanya dilangsungkan saat konferensi pers sebelum pertandingan, melainkan harus diperlihatkan di lapangan. Jika itu tak terlihat, berarti ada yang salah dengan pendekatannya. Mungkin taktiknya, strateginya atau mungkin juga pesannya yang tak sampai. Banyak hal bisa menjadi penyebab, tapi intinya pelatih punya peranan yang bisa dikatakan terpenting dalam perjalanan berkembangnya sebuah tim tersebut. Jika manajemen sudah bekerja, dukungan suporter juga ada tapi tim belum juga terangkat artinya tim pelatihlah yang harus memutar otak memaksa pemain bekerja sesuai kemauannya.

Bicara ekspektasi, sebenarnya apa yang diincar oleh Persebaya? Apa visi misi mereka di Liga 2 tahun ini? Menjadi penggembira yang hanya ambil bagian saja, memanaskan mesin tim untuk persiapan berebut naik kasta tahun depan, atau langsung ngebut untuk masuk ke Liga 1. Jangan-jangan ekspektasi kita semua tidak sama. Nah ini yang salah.

Ada contoh menarik saat TSC lalu dari pentingnya visi misi sebuah klub ini. Tiga klub bisa dijadikan contoh, sebut saja PSM Makassar, Persib Bandung dan Bali United. Dari ketiganya, PSM Makassar adalah contoh paling berhasil. Tahun lalu, mereka bersedia untuk hancur lebur sampai tengah musim. Tapi visi mereka jelas, mereka ingin tahun depan ketika liga dimulai mereka menjadi juaranya. Serangkaian perubahan diperlihatkan, pelatih diganti setelah 3 pertandingan. Meski saat masa transisi itu mereka harus hancur lebur, manajemen mendukung total rencana kerja pelatih dan tim, suporter pun tidak meninggalkan mereka karena progress pekerjaannya jelas terlihat. Visi manajemen dan tim pelatih dilihat oleh para suporter. Pesannya sampai. Lihat posisi PSM Makassar pada akhir TSC dan perjuangan mereka saat ini. Pembenahannya jelas terlihat. Dari sisi manajemen, investasi mereka tidak sia-sia. Dari sisi penonton, mereka gembira dengan semangat dan mental yang ditunjukkan para pemain di lapangan. Target dan ukurannya jelas.

Lain lagi ceritanya dengan Persib Bandung. Mendatangkan Dejan Antonic, pelatih yang dikenal bertangan dingin karena mampu mengeluarkan kemampuan pemain-pemain muda mendadak memble di Persib Bandung. Menurut analisis penulis, usahanya saat itu tak didukung oleh klub dan bahkan suporter membuat klub bertabur bintang itu terseok-seok di papan klasemen. Mengapa? Karena secara jelas berulang kali Dejan berkata bahwa TSC adalah ajang untuk mempersiapkan tim untuk Liga musim depan. Visi ini saat itu sepertinya tak didukung oleh petinggi klub maupun suporter. Sebagai tim juara, visi mereka tetap dan tak terganti. Juara, juara dan juara apapun kompetisinya. Akibatnya, tim terseok-seok dan Dejan pun memilih mundur dari Persib.

BACA:  Persebaya Pecat Iwan Setiawan

Bali United lain lagi. Klub ini punya target jelas dan terstruktur sedari awal pembentukannya. Dukungan manajemen tak usah ditanya. Tak hanya itu suporter pun tahu visi dan misi sang pelatih sedari awal. Jika disederhanakan janji visi misi Indra dan Bali United ketika itu yaitu tahun pertama merupakan tahun pembentukan, tahun ketiga merupakan tahun prestasi, tahun keempat merupakan saat dimana Bali United menjadi tim mapan secara nasional, dan di tahun kelima target mereka menjadi juara. Harus diakui meski terhitung baru, klub ini parameter dan ukuran yang mereka gunakan jelas. Oleh karena itu menjadi agak dipertanyakan ketika suporter pada tahun kedua (TSC) meminta klub ini segera berbenah agar tidak menjadi bulan-bulanan tim lain. Menariknya, manajemen saat itu full support dengan visi yang telah ditetapkan bersama Indra. Posisi Indra aman meski didesak mundur berulang kali. Hebatnya, janji itu ditepati, karena awal tahun ketiga ini mereka benar-benar mengubah komposisi pemain untuk memperlihatkan prestasi. Jadi jangan kaget kalau Hans Peter Schaller hanya mencicipi dua pertandingan saja kemarin meski tanpa didesak oleh suporter, karena tentunya parameter mereka sudah disesuaikan dengan “janji” mereka ke pihak sponsor juga suporter. Jika tak menepati, alarm menyala untuk keberlanjutan pendanaan Bali United dimata sponsor dan suporter pada tahun-tahun selanjutnya.

Antara ekspektasi dan harapan

Dimana sejatinya posisi Persebaya saat ini? Penulis harus jujur kalau Persebaya kini sedang berbenah dalam banyak hal. Membenahi klub, suporter, hubungan dengan sponsor semua dibenahi. Bagi sebagian pihak mungkin apa yang dilakukan manajemen kurang dan tak mampu memuaskan hati para Bonek seluruhnya. Tapi kembali lagi, perlu diingat kalau tim ini terbentuk meski dikejar oleh waktu. Dengan segala kekurangannya tim ini ada dan merubah wajahnya secara perlahan. Perubahannya jelas terlihat dari kerja manajemen. Keberadaan sponsor dan bagaimana mereka memperlakukan pemain, tim pelatih dan Bonek itu sendiri menjadi beberapa buktinya. Meski tak lepas dari kekurangan. Tapi ini sudah terbaik untuk klub yang baru terbentuk Februari 2017 lalu.

Klub ini tak hanya berterima kasih oleh budi baik Jawa Pos, tapi juga para sponsor lainnya. Untuk itu harus ada target dan parameter yang jelas tentunya untuk dikembalikan ke pihak sponsor. Uang yang mereka gelontorkan bukanlah charity atau hibah juga filantropi, sehingga harus dikembalikan dengan sebuah semangat yang sama untuk mengejar prestasi. Menurut saya, dengan konsep Liga 2 yang seperti dijelaskan sebelumnya Persebaya harus masuk kedalam posisi 2 besar pada saat penyisihan kali ini. Terlepas nantinya mereka terpental atau tidak pada saat babak 16 besar, itu urusan belakangan. Tahun ini, dengan beragam keterbatasan dan kekuatan yang ada saat ini Persebaya untuk sementara harus bisa memastikan dirinya untuk tetap berlaga di Liga 2. Jadi posisi mereka memang sebenarnya sangat sulit dengan waktu yang terbatas ini. Karena pilihannya hanya tiga, naik kelas ke Liga 1, tetap di Liga 2 atau turun kelas ke Liga 3. Untuk itu Persebaya butuh pelatih berkarakter yang didukung sepenuhnya oleh manajemen dan Bonek untuk mengejar ketertinggalan poin. Apakah karakter itu ada di Iwan?

Mencermati masalah Iwan Setiawan

Bicara mengenai Iwan Setiawan. Siang ini, Presiden Persebaya sudah menjelaskan bahwa sang pelatih diganjar denda seratus juta rupiah dan suspend untuk satu pertandingan. Langkah yang cukup berani dari manajemen. Artinya ada sesuatu yang positif bahwa klub ini dijalankan dengan tata kelola yang benar, ada sistem reward and punishment. Siapapun harus menjaga diri, karena tak hanya nama besar Persebaya, kota Surabaya namun adapula nama baik sponsor disana yang diemban oleh setiap anggota tim.

Langkah manajemen untuk memberi peringatan kepada Iwan Setiawan semoga bisa menjadi awal perubahan bagi klub ini. Jika dalam satu pertandingan home, tak ada perubahan permainan dan Persebaya kembali tak bisa mendulang poin maksimal rasanya tanpa harus diboikot oleh Bonek sekalipun lebih baik Persebaya mencari juru taktik baru. Justru pada pertandingan home selanjutnya, Bonek harus datang memenuhi Gelora Bung Tomo guna menjadi saksi perkembangan permainan Green Force ditangan Iwan Setiawan. Pilihannya terus memegang kendali atau mundur saat itu juga.

Namun, saya kembali teringat masalah terbesar Iwan Setiawan sebenarnya bukan hanya pada masalah permainan. Perangai buruknya ketika sembrono bicara mengenai cara bermain klub besutan Sartono Anwar dan ketika menghadapi para Bonek selepas pertandingan seharusnya sudah tidak bisa ditawar kembali. Boleh jadi satu jari yang diperlihatkan kemarin memang tidak jelas diarahkan untuk siapa, karena empat jari lainnya justru mengarah menunjuk kepada dirinya sendiri. Saatnya tim Persebaya berbenah dan berubah untuk mencapai visi misinya di Liga 2 sebelum terlambat. Wani!