Kontroversi Jojo dan Zoro, Selanjutnya Apa?

Jojo Zoro saat pertandingan Persebaya vs Persepam MU.

Sebuah isu baru muncul di tubuh Bonek. Setelah isu pertama soal tiket perlaga termurah seharga Rp 50 ribu memecah Bonek menjadi dua kubu. Walau pun ada Bonek Card yang menjadikan tiket pertandingan menjadi Rp 28.500 per laga.

Tapi tetap saja banyak yang berkomentar Save Football, Kick Business. Saya hanya bisa tersenyum.

Persebaya sudah bertahun-tahun vakum dan dulu bertahun-tahun yang lalu, APBD masih jadi BBM untuk mayoritas klub bola Indonesia

Karena itulah harga tiket bisa murah. Tapi banyak kasus klub bola jadi sekedar obyek politik dan mereka bilang Save Football, Kick Politics. Marilah kita tersenyum lagi.

Masih segar ingatan di mana manajemen baru Jawa Pos melunasi hutang gaji sebesar Rp 7,5 Miliar dari manajemen sebelumnya.

Iya, anda tidak salah baca, Rp 7,5 Miliar rupiah. Kenapa dulu adem ayem? Apakah karena tiket pertandingan yang sangat murah sehingga kurang peka? Asal tiket murah tidak peduli dengan kesejahteraan idola kalian sendiri?

Dan yang paling miris membaca komentar: wajarlah itu tanggung jawab Jawa Pos, kan sudah beli Persebaya ya harus dilunasi. Lagian duitnya banyak kok. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum.

Sekarang kita pindah ke masalah berikutnya: Iwan Out. Untuk yang satu ini saya setuju untuk Iwan Out karena ia keterlaluan sudah bertindak seperti itu. Tapi yang tidak setuju cara penyampainnya, sampai ada kata kata Love Persebaya, Hate Management.

What really? Are you serious?

Mau manajemen seperti apalagi, sudah mencurahkan tenaga, pikiran dan dana yang tidak sedikit malah bisa berkomentar sejahat itu. Padahal kalau dirunut, dibandingkan dengan klub lain, manajemen Persebaya masih mau mendengar suara-suara Bonek. Cuma semua tidak instan. Pasti ada pemikiran dan hitung-hitungannya.

Pesangon Iwan Setiawan itu tidaklah murah. Rp 500 juta untuk pelatih yang baru menjalani dua laga resmi diluar Dirgantara Cup

Lagi-lagi ada komentar: harga diri Bonek tidaklah murah. Jawa Pos itu uangnya banyak, untung banyak dari jualan tiket, dll.

Sampai ada insiden flare masuk ke lapangan dan komentarnya mayoritas sama, Jawa Pos duitnya ga bakal habis buat bayar denda, uang tiket sudah meng-cover denda. Sekarang saya yang bilang “Katanya Hate PSSI, tapi malah hobi kasih uang ke PSSI?”

Terus kalau duitnya dibuang-buang seperti ini, bagaimana musim depan mau belanja pemain? Pakai ada cita-cita bangun stadion sendiri. Hanya bisa tersenyum, lagi-lagi.

Akhirnya sampai ke isu paling baru, kontroversi Jojo dan Zoro, foto dengan seseorang yang menggunakan pakaian Curva Sud Arema Malang.

Waktu pertama kali lihat foto itu, sebelum rame dan heboh, sampai sekarang, saya pribadi merasa biasa saja. Karena caption uploader berisi cinta damai bukan berisi hinaan.

Ketika saya buka Instagram saya lagi, muncul foto dan caption yang berisi klarifikasi dan permintaan maaf Jojo dan Zoro tentang foto tersebut. Dalam waktu singkat, komentar cacian hinaan membanjiri kedua akun maskot tim Persebaya ini.

Ada yang bilang badut keliling, harga diri hilang dibeli manajemen, urusan perut lupa dengan jati diri yang paling parah hastag #jojozoroout muncul.

Waktunya tersenyum lagi, dengan mudahnya kata out muncul hanya dari sebuah kesalahan yang tidak diduga-duga.

Saya juga berpikir mungkin kalau coach baru ini tidak mampu menang di dua laga pertama bakal muncul hastag #VeraOut atau #JawaPosOut mungkin karena setelah diakusisi prestasinya jeblok dan komentar cuma dibuat bisnis.

Ingatkah anda, Jojo dan Zoro ikut dalam perjuangan membangkitkan Persebaya dulu?

Kalau anda mengaku panas-panasan berjuang demi Persebaya dulu.

Mereka berdua panasnya dobel, karena mereka berjuang dalam kostum yang sangat pengap. Dan saya berani bertaruh anda belum tentu mau jadi mereka. Bikin kostum dengan modal duit pribadi, tanpa ada yang bayar.

Kalau sekarang mereka dibayar dan dikontrak secara profesional sama manajemen Persebaya, ya itu rejekinya mereka.

Mereka juga sedang menjalankan tugas atau job desc yang ada dalam kontrak karena sudah dikontrak secara profesional oleh manajemen. Acaranya pun juga acara sponsor Persebaya.

Coba dilihat dari sisi positif, mereka berdua sedang mem-Persebayakan Surabaya dengan hadir di event-event tersebut.

Dulu kalau nggak ada kontroversi begini, mana pernah singgung mereka? Mana pernah ngatain badut keliling? Kenapa dulu waktu mereka ikut berjuang dengan kostum begini nggak ada yang protes?

Waktu Cak Renzha yang nazar jalan kaki dari Jakarta ke Surabaya, foto dan dijamu Aremania. Kenapa tidak ada hastag #RenzhaOut? Dan lucunya banyak yang bilang respect.

Yang paling parah, ada seseorang yang dulunya membelot ke klub sebelah dan akhirnya balik lagi malah dimaafkan, mungkin khilaf, enak seduluran padahal dia tidak pernah sekalipun berjuang mengembalikan Persebaya.

Tapi kenapa sebegitu bencinya kepada Jojo dan Zoro yang notabene ikut berjuang mengembalikan Persebaya hanya karena sebuah foto dengan pendukung rival. Mana katanya Bonek yang sudah berubah? Bonek yang tidak rasis lagi?

*) Penulis Independen, tidak dibayar oleh pihak manapun. Bisa diikuti di twitter @BukanPegawaiJP

*) Opini ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab emosijiwaku.com.

Facebook Comments