Jayalah Negeriku, Jayalah Persebayaku

Mural Bonek karya Project Mural Persebaya di Jl Diponegoro.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya — Bung Karno.

Secuil ungkapan sang proklamator, Bung Karno, yang se-kalimat se-iya-nya masih absah di tengah serba ketidakpastian dan ke-belum-tepatan berfikir bangsa ini atas peristiwa hal-hal yang silih berganti menjadi perhiasan dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negeri, Negara, dan Persebaya

Acapkali mungkin belum memahami bahwa negara dan negeri adalah dua hal yang berbeda makna, walau sering juga terdapat distorsi kata antara negara dan negeri dalam penggunaan sehari-hari. Dalam KBBI, arti dari negara adalah kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya. Sedangkan negeri, menurut KBBI adalah tanah tempat tinggal suatu bangsa.

Sedikit memanjang-lebarkan, negara adalah segala sesuatu nya yang bersifat padat, jelas dalam urusan birokrasi keperluan administrasi ke tata negara an, tentang segala undang-undang dan rekan-rekannya itu. Kebalikannya, negeri berarti hal-hal yang mengalir, yang membumi, yang sangat dinamis sastra budayanya. Lembut dan terletak lebih ke dalam, sangat kultural sekali.

Atau kalau kembali diperpendek-sempitkan, seperti yang diartikan oleh Mas Ariawan, salah satu guru saya dalam belajar menulis, jika Persebaya adalah negeri bagi bangsa Bonek dan yang meng iya kan nya, mengartikan juga bahwa negara adalah Jawa Pos beserta Perseroan Terbatas nya untuk sementara ini. Memahami 2-3 kalimat terakhir, mengartikan bahwa pembaca yang sebelumnya belum memahami, sudah mulai loading dengan apa yang sedikit terpapar.

Negeriku, rentangmu tak se-jengkal abad 19-an atau awal masuknya para Eropa ke nusantara. Jauh dari itu, negeriku bukan negeri yang diciptakan kemarin sore bersamaan dengan tenggelamnya bola besar bercahaya. Negeriku adalah negeri yang kelak penghuninya akan menyadari bahwa pusat peradaban seharusnya berada di sini, di negeri yang kaya akan julukan, budaya, desain alam kehidupan yang sangat artistik, bahkan tak sedikit yang menyebut negeriku adalah cipratan eksotis surga-Nya.

BACA:  Provokasi Pemain Martapura dan Sanksi Komdis PSSI

Menuju 9 dekade

Negeri Persebaya, adalah salah satu prestasi yang lahir di negeri nusa di antara dua benua dan dua samudra. Persebaya adalah negeri kecil di antara negeri-negeri kecil lain yang diayomi negeri nusantara. Diyakini di 18 Juni 1927, yang di masanya dihimpun oleh massa yang bernasib sama, menjelma menjadi kawah candra dimuka bagi negeri-negeri mini lainnya. Persebaya, negeri yang dibulatkan cinta berbenda tetes keringat, guyuran air mata nan juga kucuran darah merah. Persebaya, negeri yang disifatkan oleh doa, rasa, amarah, kecewa, kesetiaan, ketulusan nan juga kebanggaan. Persebaya, negeri yang dikerjakan oleh kenyataan dan kekaguman yang tak mampu untuk di kata-kata kan.

Persebaya tinggal beberapa hari mencapai 9 dekade nya menurut masehi. Persebaya harus menjadi Persebaya yang mengayomi dua di antara “masih 90 tahun atau sudah 90 tahun”-nya mereka yang menyebut di hari rayamu. Menuju 9 dekademu, songsong kejayaa mu Persebaya. Kejayaan yang kau tentukan sendiri menjadi halatujumu, kejayaan yang di harap-harapkan rakyatmu, yakni kejayaan yang sejati. Kami tidak berkenan dengan kejayaan palsu, kejayaan fiktif, kejayaan yang direkayasa, kejayaan yang diciptakan oleh citra-citra kesemuan. Kami tidak berkenan dengan hal itu. Jadilah Persebaya, negeri dengan kejayaan sejati.

18 Juni adalah pesta pora dengan tindakan beragam cara. Ialah tajuk untuk selalu menjaga mu dari nafsu yang mengancam indahnya negeri hijau yang mengakar tajam di gersang jiwa.

Sugeng ambal warsa ingkang sanga dasa. Jayalah negeriku, jayalah Persebayaku.

Soerabaia, 18 Joeni 1927 – Surabaya, 18 Juni 2017

Salam Satoe Nyali
Wani!

*) Penulis amatir bisa di temui di @rifihadju