Kosong-kosong Yo Rek

Foto: Joko Kristiono/EJ

Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd”

Semalam, seruan-seruan takbir akan kebesaran-Nya menggema di sudut-sudut ruang waktu. Sebuah malam sebagai tanda entah “kemenangan” atau “rasa syukur” setelah 30 hari merefleksi diri terhadap apa yang sudah terjadi di waktu lalu. 30 hari yang dijadikan sebagai cermin diri atas apa-apa ketidaksempurnaan manusia.

Pagi yang menyejukkan di awal 1 syawal 1438 Hijriah. Iringan bola besar bercahaya menemani langkah kaki untuk berduyun ke masjid-masjid, musholla-musholla, ruang lapang yang disulap menjadi tempat untuk menjalankan yang sudah menjadi ketentuan-Nya. Saling meminta maaf dan disambut saling memaafkan adalah budaya yang terus terjaga di tengah gerusan arus individualistik manusia modern. Pemandangan yang indah, mempererat sillaturahmi dan kasih sayang.

Kosong

Tak ada manusia yang sempurna, tak ada manusia yang selalu benar dan selalu salah. Sebaik-baiknya manusia pasti mempunyai kesalahan. Juga sebaliknya, seburuk-buruknya manusia tentu ia mempunyai sisi baik yang mungkin belum kita ketahui. Rasanya tak tepat, jika justifikasi satu sisi menjadi kesimpulan utuh terhadap apapun. Tak kecuali kami, Bonek.

Tidak bermaksud sok mewakili Bonek seluruh jagad raya, juga tidak bermaksud lancang. Namun dengan kerendahan hati, izinkan melalui tulisan ini, menjadi salah satu alat permohonan maaf kepada siapapun yang pernah menjadi akibat baik dari yang kami sengaja maupun tidak disengaja. Kami sadar, kami bukanlah kelompok suporter yang sempurna, sadar akan kelebihan dan juga kekurangan kami. Tentu kami juga sadar atas apa yang harus kami perbaiki, pertahankan dan tingkatkan. Tapi itu semua butuh waktu, butuh proses, butuh jalan-jalan tak mulus yang harus kami langkahi. Kepada yang pernah bersedih dan memendam rasa atas ulah sebagian dari kami, mohon dimaafkan dan mendoakan yang terbaik bagi kami, untuk minimal mengikis hal semacam ini serta melangkah agar menjadi lebih bermanfaat untuk kami sendiri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Mari bersama untuk mengosongkan hati, memulai kertas yang baru, kertas kosong yang siap untuk melukiskan kembali cerita-cerita diantara kita semua.

BACA:  Lima Menit di Martapura Yang Tak Terlupakan

Juga dalam kesempatan ini, sekali lagi tanpa bermaksud sok mewakili ataupun melangkahi suara saudara yang lain, kami Bonek suporter Persebaya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H untuk seluruh saudara muslimin muslimat di seluruh penjuru dunia yang sedang menjalankan dan merayakannya.

Salam hangat dari Bonek, semoga kita dipertemukan kembali di kesempatan-kesempatan yang tak selalu kita duga.

Salam Satu Nyali! Wani!