Mengapa Ada Klub Yang Share Hasil Penjualan Tiketnya Tapi Ada Yang Tidak

Beberapa waktu yang lalu, akun sosial media milik klub Persijap Jepara mengunggah laporan hasil penjualan tiket beserta dengan jumlah pemasukan, pengeluaran dan pajak yang harus dibayar ketika menyelenggarakan sebuah laga di kandang mereka sendiri.

Sebuah transparansi keuangan yang tidak lazim dilakukan oleh klub-klub di Indonesia, yang sempat sedikit membuat heboh suporter di tanah air dengan me-mention akun media sosial klub kebanggaannya masing-masing dan menanyakan kapan klubnya bisa meniru Persijap Jepara.

Saya sendiri pun juga penasaran kenapa klub-klub Indonesia yang lain tidak melakukan langkah yang sama dan menemukan jawaban dari akun twitter ketua panpel Persija Jakarta, Arief Kusuma (@hambaganteng) saat menjawab pertanyaan dari seorang The Jak Mania kapan persija juga bisa transparan.

“Persija itu PT, gak bisa semua kita share ke publik. Tolong pahami dong, beda Persija dan Pesijap. Lagian PT Persija belum go publik.”

Kemudian ada lagi yang menambahkan: “Bukannya membantah pak, tapi Persijap dari 2011 juga sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Jepara Raya Multitama.”

“Betul tapi dia (Persijap) masih ada pihak pemerintah daerahnya. Kalau mereka gak terbuka, akan hilang subsidi/ CSR-nya”

***

Hari ini, saya agak penasaran dengan percakapan di atas dan memutuskan untuk mengonfirmasi apakah benar hal tersebut alasannya.

Hasilnya banyak yang ikut bergabung dan berkomentar dalam topik yang dibahas, sehingga saya mendapatkan pencerahan tentang kenapa jarang klub di Indonesia membeberkan hal yang sama, termasuk juga Persebaya Surabaya.

Kredit khusus untuk Hadi Verryanto (@hdverry) yang ikut nimbrung dan menjelaskan alasan kenapa Persebaya tidak membagi informasi tentang pemasukan yang di dapat dalam setiap laga kandang.

  • PT Persebaya Indonesia tidak punya keharusan untuk share laporan keuangan ke publik. Kecuali perusahaan tersebut sudah melakukan Initial Public Offering (IPO) atau memperjualbelikan sahamnya ke masyarakat luas. Yang mana nantinya Perseroan Terbatas (PT) akan berubah menjadi perusahaan terbuka.
  • Sebagai informasi tambahan, saham PT Persebaya Indonesia sendiri dimiliki oleh PT Jawa Pos Sportainment (JPS) dengan komposisi 70 persen, sedangkan 30 persen sisanya dimiliki oleh 20 klub anggota yang tergabung dalam Koperasi Surya Abadi Persebaya (SAP).

Bagaimana kalau suporter tetap ngotot menuntut manajemen klub melakukan transparansi laporan keuangan dengan dalih sebuah terobosan baru? Karena menganggap klub kebanggaannya sudah berbeda ‘kelas’ dan harus jadi pioneer dalam hal tersebut?

  • Tetap tidak bisa, karena manajemen tidak berkewajiban untuk membagi laporan keuangan untuk publik. Mungkin sewajarnya yang bisa untuk konsumsi publik seperti berapa jumlah tiket yang terjual tiap laga kandang. 
  • Tapi kalau sampai neraca gaji pemain, pendapatan sponsor, gaji staff dan manajemen, biaya operasional tidak akan pernah di bagikan. Kenapa? Ya itu tadi karena PT Persebaya Indonesia berbentuk PT Tertutup/Private Company.

Mengapa terkadang kita (suporter/pubik) tidak tahu berapa jumlah tiket yang terjual?

  • Karena itu juga hak manajemen untuk membagikan/ tidak informasi tentang hal tersebut, namun lazimnya mayoritas klub sepakbola akan memberitahukan berapa jumlah tiket yang terjual/penonton yang hadir di sebuah pertandingan entah itu dengan pengeras suara di stadion, website klub ataupun ke media.

Mengapa Persijap Jepara membagikan laporan keuangannya meskipun klub tersebut berbentuk PT ?

  • Karena dari statement Pak Arief Kusuma, Ketua Panpel Persija Jakarta, Persijap Jepara tidak murni 100% Swasta dan masih disubsidi oleh Pemerintah Daerah, di mana dana Pemda adalah dana rakyat jika mereka tidak terbuka, subsidi tersebut akan hilang.

Seperti kata @Natsirian ketika ikut nimbrung dalam obrolan tadi.

Mau di share ke publik atau tidak, itu terserah yang punya informasi. 

Boleh minta untuk di share, tapi jangan marah kalau tidak dikasih.

Semoga artikel ini bisa sedikit mencerahkan mengapa mayoritas klub di Indonesia tidak melakukan transparansi keuangan seperti yang anda kehendaki.

Sekian dan terima kasih.

* Terima kasih sekali lagi untuk Arief Kusuma (@hambaganteng), Hadi Verryanto (@hdverry) yang berkenan memberikan penjelasan kepada penulis.
** Sumber dari tulisan ini berdasarkan obrolan di twitter, lebih jelasnya bisa disimak di timeline #BukanPegawaiJawaPos (@BukanPegawaiJP).