Persebaya, Kenangan Masa Kecil: Menantang Klub Slask Polandia (2)

Kiper Slask Polandia, Zygmund Kalinowski (tiga dari kiri).

Setelah menonton Persebaya melawan Korea Selatan, aku ketagihan nonton bola. Aku menanti-nanti kapan lagi ada pertandingan Persebaya di Gelora 10 November, Tambaksari, sambil mengumpulkan uang beli karcis dari uang saku sekolah yang biasanya kuterima dari bapak sebesar Rp 10, paling banyak Rp 25.

Aku juga sudah ikut klub (kalau sekarang SSB) yaitu ke PO Indonesia Muda, di Jalan Pacar Keling. Tapi masih ilegal karena hanya ikut latihan tanpa mendaftar dan bayar iuran bulanan.

Suatu pagi, saat bermain-main dengan teman-teman kampung, kami dikejutkan oleh pesawat capung yang terbang rendah. Saking rendahnya sampai terlihat pilotnya karena pesawatnya semi terbuka. Anak-anak zaman old, kalau ada pesawat melintas, utamanya Helikopter pasti semua ikut Da-da-da-da, tidak perduli yang di pesawat sana tahu apa nggak.

Pagi itu ada kejutan! Pesawat capung itu menghamburkan ratusan lembar selebaran dari udara. Kami berebutan untuk mendapatkannya. Namanya anak-anak, ada yang dapat sepuluh lembar, ada yang dapat tiga, ada yang dapat satu, banyak juga yang gak dapat. Padahal isi selebaran itu bunyinya sama. Tapi kebanggaan berbeda, hehehe.

Apa isi selebaran itu?

Isinya ternyata ada pertandingan sepak bola Internasional antara Persebaya vs Slask Polandia. Pada 1976, Polandia pemegang rangking 3 dunia dari Piala Dunia 1974. Sontak aku gemetar, karena uang yang terkumpul belum mencapai Rp 100, bahkan kali ini harga tiket ABRI dan anak-anak naik jadi Rp 200. Aduh, bagaimana ini?

Terpaksa aku minta kesana-kemari untuk tambahan, ke mbah Lanang dapat Rp 25, ke mbah putri angkat dapat Rp 25. Jelas masih kurang!

Di Jalan Kapasan, ada Bemo berjalan pelan dilengkapi dengan megaphone yang menyiarkan berita (Woro-woro) akan diselenggarakan pertandingan sepak bola, sama dengan isi selebaran yang dijatuhkan pesawat kemarin.   Dada makin sempit, aku harus nonton ini… masyarakat tidak perduli kalau tim yang akan datang adalah sebuah klub, bukan timnas, tapi kami semua tahunya Polandia, titik.

Ehh, ndilalah… waktu sepulang main bola di lapangan Han Kow, di gang sempit aku “nemu” duit koin Rp 50, dua keping sekaligus! Uang siapa ini? Tentu orang yang berjalan di gang ini, dan jelas… uang itu segera masuk kantong, huehehe. Wah, bisa beli karcis sekaligus es Gronjong nih. Alhamdulillahhhh…

BACA:  Jakarta 2005, Sejarah Kelam Persebaya dan Bonek

Setelah berada di dalam stadion, aku baru tahu kalau laga Persebaya melawan Slask Polandia ini dalam rangka HUT Indonesia Muda. Wah, klubku (dalam hati). Slask datang ke Indonesia karena diundang PSSI untuk turnamen segitiga dengan PSSI dan Stoke City (Inggris).

Sebelum laga, ada pertandingan antar Remaja IM vs Remaja PSAD, lalu ada pertunjukan Drum Band dan nanti istirahatnya ada undian sepeda motor (lagi).

Persebaya menurunkan line up hampir sama dengan saat lawan Korea, seragamnya masih tetap hijau putih, tetapi Polandia yang pakai kaus putih celana merah terlalu kuat bagi Persebaya, baru 1 menit pertandingan penyerang Polandia sudah lolos hadangan, sayang bolanya membentur tiang dan dua menit kemudian kapten Persebaya, Nyoman Slamet Witarsa handsball. Persebaya kena penalty… dan Didik Nurhadi tak kuasa menahan gol.

Persebaya coba membalas, Hadi Ismanto melepaskan tendangan keras terarah, tapi bolanya mengarah tepat ke dekapan kiper Slask Polandia, Zygmund Kalinowski yang berambut ikal pirang. Aku ingat betul karena aku nonton di tribun utara belakang gawang. Hanya ada satu pemain nasional Polandia yang berasal dari Slask yang ikut main hari itu, yaitu Sweeper, Wladyslaw Zmuda, yang juga turun bermain saat Polandia dikalahkan Jerman Timur 1-3 di final Olimpiade Montreal 1976 di Kanada.

Skor akhir Persebaya 0, Slask Polandia 3.

Sejak pertandingan melawan Korea sampai Polandia, berkali-kali penonton di Gelora 10 November dibuat nyaris berjingkrak namun selalu batal, karena Persebaya tidak juga bisa mencetak gol. Aku akan menabung lagi untuk pertandingan berikutnya, dan aku ingin menyaksikan bagaimana riuhnya stadion andai Persebaya bisa mencetak gol.

Sepulangnya, aku baru tahu kalau teman-teman di IM bisa masuk gratis di tribun VIP dengan “hanya” menunjukkan kartu anggota IM plus lunas iuran bulanan. Padahal aku belum juga mendaftar jadi anggota. Kata teman-teman, uang pendaftaran Rp 100, iuran bulanan Rp 100. Wah mahal amat. Belum lagi ongkos afdruk pas foto.

Tapi hanya itu jalan satu-satunya agar aku bisa menjadi seorang Ronny Pasla. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments