Mengapresiasi Kinerja Manajemen Persebaya

Celebration Game. Foto: dok. Muhammad Fattah

Mengelola tim sepak bola sebesar Persebaya Surabaya dengan nilai historis tinggi dan kejayaannya tentu bukan sebuah perkara mudah. Harus tahan banting dan memiliki mental baja. Sebab, kesalahan sedikit saja akan berdampak pada kritik keras fans terhadap tim.

Februari 2017 lalu, PT Jawa Pos Sportainment (JPS) mengambil alih 70 persen saham Persebaya. Azrul Ananda naik menjadi Presiden klub kebanggan arek Suroboyo ini. Sebuah langkah yang menurut saya sangat tepat.

Kiprah Azrul Ananda yang juga hobi bersepeda itu sudah teruji dalam mengelola perusahaan. Pun demikian dalam mengelola sebuah event, contoh seperti DBL yang setiap tahun diadakan untuk jenjang pelajar.

Dari laga pertama pun sudah terlihat akan ada kemajuan dan modernisasi Persebaya. Laga Homecoming Game digelar untuk memenuhi dahaga Bonek akan tim kebanggaannya yang baru saja diakui kembali oleh PSSI. Lebih spesial karena dihadiri oleh Menpora dan Ketum PSSI. Hiburan juga diselipkan pada beberapa game kandang, seperti mendatangkan artis dan band papan atas untuk menghibur penonton. Sponsor juga mendukung dengan memberikan hadiah kepada suporter yang beruntung berupa kendaraan motor dan mobil. Tak lupa juga Bonek Fair diadakan untuk mewadahi kreatifitas Bonek. Sesuatu yang sangat sulit terjadi pada Persebaya sebelumnya.

Jersey Bajol Ijo juga dirombak total. Beberapa teknologi canggih diimplementasikan ke dalamnya. Bahkan berlabel jersey tercanggih di Indonesia musim 2017 lalu. Juga tentang rencana jangka panjang tim dan pengelolaan keuangan klub yang dijabarkan secara langsung oleh presiden klub Azrul Ananda di kanal YouTube resmi Persebaya dengan tajuk “Bisnis Sepak Bola bersama Azrul Ananda”. Terbuka, dan mengedukasi para suporter. Inilah manejemen yang diharapkan.

BACA:  Sabar rek, Persebaya Sedang Memupuk Kesuksesan

Meski, ada sebuah problem besar tentang Gelora Bung Tomo yang sangat menyulitkan Bonek. Namun saya melihat hal tersebut bukan sepenuhnya salah manajemen maupun panpel pertandingan. Karena mau panpel sehebat apapun, ketika puluhan ribu orang tumplek blek di kawasan GBT dan dalam kondisi seperti itu, akan sangat sulit untuk mengatur. Berangkat lebih awal adalah solusi paling logis agar tidak terjebak macet. Pun demikian juga dengan insiden bobolnya pintu masuk saat Celebration Game menghadapi PSS Sleman lalu. Jika kita melihat dari dua sudut pandang, evaluasi bukan hanya harus dari panpel melainkan juga Bonek itu sendiri. Kesadaran untuk bertiket ketika akan menonton pertandingan juga harus terus disosialisasikan agar tercipta suasana yang nyaman bagi penonton. Cek podo-podo enak e. Begitu kurang lebih bahasa Suroboyoan-nya.

Karena pada dasarnya, kritik adalah hal yang lumrah untuk memperbaiki suatu hal yang kurang benar. Namun, jika kritik tersebut terlalu berlebihan dengan porsi yang jomplang, serta tutup mulut untuk mengapresiasi, maka hal yang lebih parah bisa terjadi. Contohnya tidak ada lagi kepercayaan terhadap manajemen. Padahal, manajemen juga pioner yang penting untuk kesuksesan tim selain tentu saja suporter sebagai pemain ke-12 yang punya daya dobrak psikis untuk menghantarkan tim kebanggaan meraih kemenangan.

Sebab saya percaya dan yakin, jika bukan manajemen saat ini yang mengelola, Persebaya tidak akan sebaik dan sehebat ini. (*)

Facebook Comments