Dilan, Bonek, dan Persebaya

Dilan sebuah film dari sebuah novel karangan Pidi Baiq dengan judul yang sama sedang diputar di banyak gedung film. Tokoh utama dalam film adalah Dilan dan Milea yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan dan Vanesha Presalla. Penulis belum lihat filmnya tetapi sudah baca bukunya yang Dilan 1990.

Di media sosial dalam beberapa hari ini banyak sekali berseliweran quote-quote menarik dan menggelitik dari Dilan yang ditujukan ke Milea. Quote tersebut banyak dihubungkan dengan berbagai peristiwa yang terjadi saat ini. Tak terkecuali sepak bola dan Persebaya. Tentang kerinduan, cinta perjuangan adalah beberapa yang bisa dikutip.

Rekor penonton 50.000 yang hadir di Gelora Bung Tomo menggambarkan bahwa Bonek layaknya Dilan dan Persebaya seperti Milea bagi Dilan. Bagaimana Dilan menjaga, memperjuangan, dan menyayangi Milea tanpa ada batas-batasnya. Ada ketulusan dan kerelaan tanpa memikirkan hal lainnya untuk sebuah rasa cinta.

“Aku tak pernah ingin mengekangmu. Bebas, terserah kau, kemana mau pergi. Asal aku ikut” – Dilan

Dari kutipan diatas bisa digambarkan Persebaya kemana pun pergi Bonek akan mengikutinya. Bonek bukan hanya sebatas suporter tetapi lebih dari itu. Juga saat Pidi Baiq menuliskan  “Meski yang dikatakannya bukan kata-kata cinta, tapi mampu menumbuhkan rasa cinta”.

Jika latar belakang Dilan diambil awal 1990-an maka akan ada perbandingan yang pas untuk nostalgia Piala Utama 1990. Saat itu tim Persebaya dijuluki Bledug Ijo karena berisi para pemain muda. Bleduk Ijo berhasil menjuarai Piala Utama dengan mengalahkan tim penuh bintang saat itu yaitu Pelita Jaya. Dua gol Yusuf Ekodono dan satu gol Winedy Purwito membuat Persebaya menang 3-2 dalam final 27 Nopember 1990 di Stadion Utama Senayan.

BACA:  Tiga Poin, Empat Gol, Persebaya Terus Melaju ke Liga 1

Nostalgia tentang rasa dan cinta akan selalu ada dari generasi ke generasi dengan cerita dan kisah yang berbeda. Ada nilai yang berbeda dari tiap kisah. Persebaya sampai kiamat adalah kata yang paling pas untuk menggambarkan tidak akan habisnya generasi Bonek untuk Persebaya.

Salah satu tulisan Azrul Ananda di awal Liga 2 dulu adalah tentang cinta berbalas cinta. Menggambarkan hubungan cinta Bonek dengan Persebaya dalam hal ini manajemen. Kedua belah pihak sudah semestinya saling bisa merasakan cinta mereka. Perbedaan silang pendapat itu bagian dari cinta itu sendiri.

Kompetisi sesungguhnya Liga 1 akan segera bergulir. Bergandeng eratlah Dilan dan Milea, Bonek dan Persebaya. Samakan visi misinya. Jalan yang ditempuh bisa berbeda untuk tujuan yang sama dan saling menguatkan. Zen RS pernah menuliskan jika tidak salah artinya begini, Indonesia tidak akan pernah merdeka jika jalannya lurus saja, ada yang mengambil sayap kanan, ada juga yang berada di sayap kiri.

Persebaya Selamanya!
Salam Satu Nyali!

Facebook Comments