Tanyakan Cak Mahardika Nurdiansyah, Song For Pride untuk Apa dan Siapa?

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Melanjutkan tulisan cak Muhammad Nooridho Ilmansyah tentang hilangnya taji Song For Pride di Gelora Delta Sidoarjo, saat victory lap pemain timnas U-16 setelah menjuarai piala AFF U-16 kemarin, memang sangatlah janggal dan berlebihan.

Ini bukan persoalan latah fans Persebaya yang sembrono pada anthem tim yang disepakati bersama kesakralannya, tetapi ini persoalan hilangnya kreativitas fans sepak bola yang mencomot lagu kebesaran dan kebanggaan kita pada Persebaya.

Saya pernah menulis sebuah protes kepada fans Bali United yang mengusik ke hikmatan lagu Song For Pride saat Persebaya versus Bali United lalu. Kasusnya serupa dengan apa yang dilihat oleh cak Nooridho, ada capo dan pentolan Bonek yang juga berada di kerumunan Semeton Bali itu. Celakanya mereka tidak memberi aba-aba kepada Semeton untuk menghormati sejenak Song For Pride, justru membuat fans Bali semakin lantang tak mau kalah oleh anthem tersebut.

Timnas U-16 adalah representasi Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke ada di skuad Fakhri Husaini. Namun, apakah Song For Pride harus dikumandangkan di stadion yang bukan saja Bonek dan fans Persebaya di dalamnya? Coba tanyakan cak Mahardika Nurdiansyah, lagu itu diciptakan untuk Persebaya atau lainnya termasuk timnas sekali pun.

Iklan

Gubah menggubah lagu memang bukanlah hal serius di Indonesia. Jutaan lagu tergubah bergantung kebutuhan dan kondisi. Di situlah imajinasi penggubah dibutuhkan, peruntukan lagu tetap melalui pemikiran dan naluri kreativitas. Jika Song For Pride digubah-gubah menyesuaikan peruntukannya, betapa murah dan hilang aura kebesaran dan kegaharan lagu itu, tak ubahnya lagu-lagu mp3 bajakan di lapak-lapak pasar malam.

Timnas Perancis pun tidak serta merta fans PSG mengobral anthem mereka, pun demikian Liverpudlian tidak murah memberikan You’ll Never Walk Alone kepada Kane dkk, artinya, Song For Pride harus dijiwai setiap Bonek dengan tulus bahwa lagu tersebut hanyalah “doa” bagi Persebaya semata. Ini hanya persoalan disorientasi capo-capo pada menjaga kesakralan Song For Pride saja.

Mem-Persebaya-kan masyarakat harus dengan cara cerdas. Jaga dan simpan simbol-simbol kebanggaan kita dengan terhormat. Letakkan Song For Pride sebagai anthem kita mengawal Persebaya. Timnas adalah milik seluruh bangsa Indonesia, termasuk rival-rival kita disana, jika anthem itu berkumandang bukan untuk Persebaya, digubah dengan kalimat indah apa pun tak akan mengalahkan kegaharan nyawa lagu itu ketika di hadapan Persebaya.

Ruh lagu itu adalah Persebaya, alunannya pun teruntuk Persebaya. Lagu itu mampu membuat ribuan bulu kuduk berdiri dan tetesan air mata, hanya di Persebaya dan yang terkandung di dalamnya, bukan lainnya.

Salam 1 Nyali! WANI!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display