Piala Dunia Sementara, Persebaya Selamanya: Sebuah Klarifikasi
Sebagai orang yang pertama kali menulis "Piala Dunia Sementara Persebaya Selamanya" yang belakangan ini ramai di sosial media sebagai slogan perjuangan Bonek, sepertinya saya perlu memberi klarifikasi. Karena ternyata banyak yang salah paham dengan slogan itu.
Surat Pembaca: Hentikan Kompetisi TSC!
Mari stop kekerasan terhadap suporter.
Sebuah Kecintaan Bonek Luar Kota Pada Persebaya
Dalam hidupnya, Seorang pria bisa mengubah istri, partai politik, atau agama, tetapi tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya
Apa Manfaat Agenda Fight di Atas Ring?
Rivalitas yang sehat seharusnya diwujudkan lewat kreativitas tribun, koreografi, loyalitas mendukung klub, kegiatan sosial, dan atmosfer stadion, bukan adu fisik yang berisiko membuka luka baru di kemudian hari
Berjalanlah Bersama, Kita Persebaya
Persebaya milik semua. Persebaya akan juara dengan berjalan beriringan. Sesuatu yang besar dan hebat hanya bisa digerakkan oleh sebuah persatuan dari yang besar dan hebat pula.
Benarkah GBT Angker untuk Persebaya?
Sabtu malam (29/2) lalu Persebaya akhirnya melepas masa lajang. Setelah masa libur panjang liga musim 2019, akhirnya Smereka kembali menjalani pertandingan dalam Liga 1. Laga yang mempertemukan Persebaya dengan Persik Kediri itu juga sebagai penanda Liga 1 musim 2020 telah resmi dimulai.
Balde Meledak di Awal Juli, Persebaya Pun Pesta Kandang Perdana
Pengin main atraktif atau meraih tiga poin? Mourinho lebih pilih tiga poin. Guardiola memilih keduanya. Djajang Nurjaman?
Antara Distribusi Tiket dan Berkumpul untuk Maksimalkan Energi Positif Bonek
Dua laga terakhir di Solo, Sleman dan satu laga di Bantul yang akan kita hadiri juga masih menyisakan kebingungan beberapa dulur kita yang selama ini mbonek sendirian atau bersama komunitasnya untuk mendapatkan tiket.
Lekas Pulih Persebayaku
Persebaya merupakan kebanggaan kita semua. Banyak yang mencintai persebaya hingga kehilangan akal sehatnya. Kemarin Surabaya dibuat malu oleh sebagian oknum suporter yang merangsek masuk lapangan membentangkan spanduk “JANGAN BIKIN MALU SURABAYA”, merusak pagar pembatas, merusak billboard dan menyalakan kembang api serta flare. Apakah tindakan tersebut benar? Atau suatu pembenaran diri oleh oknum tersebut? Tindakan tersebut tidak ada bedanya dengan tindakan suporter yang kalian anggap ‘rival’, sama-sama bikin malu! Kecewa dengan hasil pertandingan boleh saja, namun kekecewaan tersebut apakah harus diimplementasikan dengan tindakan demikian?














