Tiga Skenario Hidupkan Persebaya

Foto: tribunnews.com

Bonek, suporter loyal Persebaya, telah sukses menekan PSSI membahas keanggotaan klub kebanggaan arek Surabaya. Pengadilan Niaga Surabaya juga memenangkan PT Persebaya Indonesia (PI) sebagai pemegang merek sah Persebaya.

Lantas apa yang harus dilakukan setelah mendapat sukses beruntun dalam waktu hampir bersamaan? Hanya satu jawabannya: membentuk tim yang kuat. Tim yang siap berlaga dalam kompetisi maupun turnamen. Tanpa tim, Persebaya tetap tinggal nama. Tidak akan ada artinya perjuangan bonek selama ini.

Tapi siapa yang berkewajiban membentuk tim? Tentu bukan Bonek. Bonek hanyalah suporter. Ia bukan pemilik klub. Hanya fans berat. Bonek tidak bisa membentuk tim karena bukan pemilik klub Persebaya. Ia bukan pemegang saham. Juga bukan badan hukum.

Menurut saya, ada tiga skenario untuk menghidupkan Persebaya yang mati suri. Apa itu?

1. Manajemen PT PI segera membentuk tim

Pihak yang paling bertanggungjawab membentuk tim adalah manajemen PT PI. Dalam hal ini Saleh Ismail Mukadar dan Cholid Goromah. Merekalah pemilik sekaligus manajemen PT PI. Meski menurut pengakuan, mereka hanya pemegang atas nama saham milik klub anggota Persebaya.

Tapi mungkinkah manajemen mampu membuat tim? Kalau lihat performance-nya selama ini, jauh dari panggang api. Sampai saat ini, manajemen belum mampu membayar utang gaji pemain. Konon, total utang mereka sekitar Rp 9 Miliar. Perusahaan punya utang itu biasa. Sepanjang ia punya aset. Nah PT PI tak punya aset. Satu-satunya aset hanyalah merek Persebaya.

Mampukah dengan hanya memiliki aset berupa merek, mereka membentuk tim? Tampaknya sulit untuk berharap banyak. Kalau PT PI tak bisa diharapkan, lantas siapa yang bisa bikin tim?

2. Pihak ketiga membeli saham PT PI

Skenario kedua berharap ada pihak ketiga yang membeli saham PT PI. Tentu pemilik baru harus melunasi utang-utangnya. Juga membeli saham sesuai dengan keinginan pemilik PT PI.

Nah, dengan hanya memiliki aset merek, masihkah ada pihak ketiga yg tertarik membeli Persebaya? Apalagi, merek sebagai satu-satunya aset itu sebetulnya tak layak menjadi hak PT PI. Sebab, merek Persebaya bukan bikinan PT PI. Merek itu sudah ada jauh sblm PT itu ada.

Merek itu sebetulnya milik publik bola Surabaya. Namun, kini secara hukum sudah menjadi milik mereka. Merek itu bisa dikuasai publik lagi kalau digugat secara class action dan menang. Tentu ini butuh waktu. Karena itu, kurang pas juga kalau merek itu dijual mahal oleh pemilik PT PI sekarang. Sebab mereka menjual barang milik publik.

Lalu berapa harga wajar saham PT PI? Hitungan kasarnya, valuasi/nilai merek Persebaya saat ini dikurangi utang perusahaan. Misalnya, jika merek Persebaya dinilai Rp 50 Miliar terus dikurangi utang Rp 9 Miliar, maka harga jualnya Rp 41 miliar. Kalau saham PT Persebaya bisa dijual dengan harga tersebut, siapa yang untung? Pemegang saham sekarang.

BACA:  Manajemen Persebaya Harapkan Ketum PSSI Berasal Dari Unsur Militer

Persoalannya siapa yg mau membeli perusahaan tanpa aset? Rasanya hanya orang yang betul-betul gila bola. Itu pun jika nilai jualnya masuk akal. Ibaratnya kita menunggu orang gila yang ingin buang sial dengan membelanjakan uangnya dalam jumlah besar. Sebab, jika nilai jualnya Rp 50 Miliar, maka investor baru harus menyediakan dana Rp 100 M. Rp 50 M untuk bentuk tim dan operasional setahun. Sungguh jumlah yg tidak sedikit.

Jika skenario 1 dan 2 tidak berjalan, lalu apa yg bisa dilakukan?

3. Persebaya kembali ke khittah

Mengembalikan kepemilikan Persebaya kepada pemilik asli. Siapa pemilik asli Persebaya? Klub anggota Persebaya. Yakni klub-klub amatir yang mendirikan Persebaya. Sayangnya klub anggota itu sekarang terpecah. Mereka tercerai berai menjadi dua kelompok. Maka, tantangan pertama adalah mempersatukan klub anggota Persebaya. Maukah mereka?

Barangkali kawan-kawan Bonek bisa mendesak klub anggota tersebut bersatu demi Persebaya. Demi kebanggaan arek Suroboyo. Setelah mereka bersatu, mereka bisa bikin PT baru. Dengan demikian, mereka tidak harus dapat warisan utang.

Lalu bagaimana dengan merek Persebaya? Mereka bisa meminta kepada PT PI untuk menghibahkan. Kalau tidak dihibahkan, klub anggota tidak berhak menggunakan merek itu secara hukum. Kalau ngotot, bisa digugat setiap saat.

Apakah klub anggota mampu setor saham dan modal untuk PT baru? Memang sulit diharapkan. Tapi mereka bisa setor pemain. Setiap klub setor dua pemain. Pemain klub itulah kemudian divaluasi menjadi saham.

Lantas bagaimana operasionalnya? Ini yang perlu pemecahan. Mungkin perlu menjual sebagian sahamnya. Misalnya: 30 persen, 40 persen, 50 persen, atau 60 persen. Sebaiknya ada sebagian saham suporter. Syaratnya suporter harus bikin badan hukum. Apa itu koperasi, yayasan, atau PT. Biar suporter ikut memiliki.

Nah, disinilah, Pemkot Surabaya diharapkan turun tangan. Dia bisa menyewakan stadion beberapa tahun. Sewa stadion itu dibayar dengan saham. Saham Pemkot tersebut bisa diatasnamakan BUMD. DPRD hrs setujui setoran modal dalam bentuk sewa stadion itu. Maka tim baru tersebut akan kembali menjadi milik publik kota Surabaya. Manajemen PT baru serahkan kepada profesional.

Rasanya tiga skenario itu yang bisa menghidupkan Persebaya dari mati suri. Harus segera dipilih salah satu. Kalau tidak, maka persoalan Persebaya akan terus mbulet seperti kentut di ruang tertutup. Bikin sumpek dan bau.

Itulah sumbang saran pikiran saya untuk Persebaya. Untuk masyarakat bola Surabaya. Untuk kawan-kawan Bonek yang tanpa lelah berjuang. (*)

*) Arif Afandi, Mantan Ketua Umum Persebaya. Tulisan diambil dari kultwit Arif Afandi di akun Twitternya, @ArifAfandi05.