Masalah-Masalah Yang ada di Stadion GBT Sebagai Kandang Persebaya

Stadion Gelora Bung Tomo. (Foto: Audee Photography)

Pernyataan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang memberi ijin pemakaian Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) sebagai kandang Persebaya selama melakoni Divisi Utama (DU) musim depan patut dan wajib disyukuri. Karena dengan begitu, Persebaya sudah memiliki home base di kota sendiri tanpa harus berpindah ke luar Surabaya.

Perlu diketahui, stadion GBT memiliki kapasitas mencapai 60.000 penonton yang bisa menampung puluhan ribu Bonek saat memberikan dukungan langsung. Dan seharusnya secara otomatis bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Persebaya melalui pendapatan tiket masuk pertandingan kandang.

Hal tersebut bisa dicapai dengan memanfaatkan fanatisme Bonek yang sangat luar biasa. Ditambah lagi dengan kondisi rumput lapangan stadion yang sangat baik tentu akan menunjang para punggawa Persebaya untuk bisa bermain maksimal di setiap laga.

Namun faktanya, di balik segala kemegahan yang dimiliki stadion yang dibangun pada awal tahun 2008 ini, banyak yang tidak mengetahui bahwa stadion GBT ternyata memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, terutama masalah infrastruktur bangunan stadion.

Update terkini terkait infrastruktur bangunan stadion GBT adalah sangat mengenaskan. Banyak terjadi kerusakan di pintu-pintu masuk stadion. Dan kerusakan tersebut hampir merata di setiap sektor pintu masuk stadion. Selain pintu, banyak dinding-dinding plafon stadion yang rusak dan jebol. Dan lebih memprihatinkan lagi, menurut informasi dari beberapa pihak keamanan stadion, kerusakan-kerusakan tersebut akibat ulah sebagian Bonek sendiri. Bonek sing pengen mlebu gratis nonton Persebaya tanpa tiket, mangkane njebol stadione dewe.

Namun ada beberapa pihak lain (yang tidak mau disebutkan namanya) yang menginformasikan bahwa stadion GBT sejatinya adalah proyek gagal Pemkot.

Kenapa gagal? Karena tanah di bawah bangunan stadion GBT adalah tanah aktif atau tanah gerak. Sehingga apabila dilihat secara detail dengan kasat mata, infrastruktur bangunan stadion GBT banyak sekali yang mulai retak-retak.

Oke, secara logika, sangat masuk akal ketika kerusakan yang terjadi pada dinding-dinding plafon stadion akibat ulah sebagian Bonek yang masuk stadion menonton tanpa membeli tiket.

Namun, ketika kerusakan itu terjadi pada setiap sektor pintu masuk stadion, sangat tidak masuk akal sekali kalau menuduh Bonek sebagai biang keladinya. Karena pintu masuk di semua sektor stadion terbuat dari besi atau baja yang sangat tebal dan dirancang sedemikian rupa menyerupai pintu masuk kebanyakan mall-mall atau tempat wisata disurabaya (pintu masuk melingkar dan berputar).

Jadi sangat kecil kemungkinan kerusakan pintu-pintu tersebut akibat ulah manusia (Bonek), tetapi besar kemungkinan, kerusakan tersebut diakibatkan pergerakan atau pergeseran tanah gerak di bawah stadion yang berdampak pada kontruksi infrastruktur bangunan, terutama pintu-pintu masuk stadion.

Jadi, apabila di awal disebutkan bahwa stadion GBT memberi keuntungan bagi Persebaya melalui pendapatan tiket, kenyataan tidak demikian. Di beberapa perhelatan pertandingan terakhir Persebaya di Stadion GBT malah menjadi faktor utama terjadinya pembengkakan biaya dan tidak optimal jumlah pendapatan tiket pertandingan.

Pembengkakan biaya dari mana?

Sudah sangat jelas. Yang pertama adalah biaya sewa stadion. Mahal mana harga sewa stadion GBT dengan Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari? Yang jelas lebih mahal sewa stadion GBT. Ditambah lagi akses yang jauh dari pusat kota sehingga membutuhkan tambahan transportasi untuk tim yang akan bertanding.

Untuk Persebaya, jarak dari Mess Karanggayam ke Stadion GBT kurang lebih dari 25 km. Bagi tim tamu, dari hotel ke Stadion GBT.

BACA:  Kemewahan Semu Stadion Gelora Bung Tomo

Belum lagi pembengkakan biaya pengamanannya dan lain-lain yang jumlahnya masih sangat banyak. Tetapi mohon maaf, saya tidak bisa dirinci satu per satu di sini.

Di samping pembengkakan-pembekakan tersebut, raihan pendapatan tiket masuk selama Persebaya berlaga di Stadion GBT tidak optimal. Berikut adalah fakta-fakta yang bersumber dari Divisi Ticketing pertandingan.

Laga Battle Of Heroes, Andik & Friends
– Penonton yang masuk stadion GBT = 40.500
– Tiket yang terjual = 23.678 lembar

Laga Ekshibition Piala Kemerdekaan, Persebaya vs Persibo vs Indonesia Allstar
– Penonton yang masuk ke stadion GBT = 20.000
– Tiket yang terjual = 9.800 lembar (Termasuk penonton Semifinal Piala Kemerdekaan)

Laga Ekshibition Piala Kemerdekaan, Persebaya vs Persekap
– Penonton yang masuk ke stadion GBT = 35.000
– Tiket yang terjual = 15.900 lembar (Termasuk penonton Final Piala Kemerdekaan)

Kesimpulan:

– Banyak penonton yang bisa masuk ke stadion GBT tanpa menggunakan atau membeli tiket resmi (kebocoran penonton tanpa tiket).

– Setelah dilakukan evaluasi dan investigasi dari Panpel Divisi Ticketing, pengamanan, kepolisian, ternyata jawabannya adalah Infrastruktur bangunan stadion yang menjadi faktor utama penyebab kebocoran. Dengan memanfaatkan kerusakan-kerusakan hampir di seluruh sektor pada pintu-pintu masuk, dinding-dinding beserta atap plafon stadion, sangat mudah bagi para penonton untuk masuk ke dalam stadion tanpa membeli tiket resmi. (Ibaratnya penonton lebih pintar dalam mencari akses masuk gratis stadion daripada aparat keamanan).

– Kondisi kebocoran-kebocoran tersebut bisa di minimalisir dengan memperketat secara ekstrim di setiap titik pintu-pintu masuk stadion. Tetapi dengan konsekuensi membengkaknya biaya pengamanan dengan menambah jumlah PAM security guard serta menyewa puluhan anjing penjaga (Kebutuhan disesuaikan dengan jumlah titik pintu masuk stadion).

Solusi yang bisa dipakai:

– Balik lagi dengan slogan “Untuk membangkitkan tim legendaris kebanggaan kota Surabaya, Persebaya, diperlukan dukungan dari setiap lapisan elemen masyarakat kota Surabaya termasuk jajaran Pemkot Surabaya”. Bukan mengemis anggaran-anggaran lho (Ingat, Persebaya harus sudah dikelola secara profesional), melainkan bentuk dukungan Pemkot dengan mempermudah ijin pemakaian stadion GBT dengan harga sewa yang lebih bersahabat.

– Mumpung masih ada waktu sebelum bergulirnya kompetisi DU tahun depan, ada baiknya pihak Pemkot meninjau langsung Stadion GBT. Kemudian cepat menindaklanjuti segala permasalahan infrastruktur stadion dengan melakukan pembenahan atau renovasi terutama di sektor pintu-pintu masuk stadion

Gawe dulur-dulurku Bonek sejagat raya, mohon dimengerti dan dipahami bahwa bagaimanapun juga tim kebanggaan kita Persebaya saat ini harus dikelola secara profesional dan mandiri. Tidak lagi menyusu dana APBD. Dan ketika harus menjalankan roda serta motor tim secara profesional dan mandiri saat ini pasti membutuhkan uang. Dari mana Uangnya? Bayangkan apabila masing-masing Bonek membudayakan tertib hadir mendukung langsung Persebaya di stadion dan tertib mengeluarkan Rp25.000 per pertandingan untuk tiket laga kandang, sementara jumlah Bonek sendiri mencapai lebih dari 60.000, apabila dikalikan dengan harga rata-rata tiket yang paling banyak dibeli, maka pendapatan kotor Persebaya dalam satu pertandingan kandang bisa mencapai (Rp25.000 x 60000 = 1.500.000.000 atau SATU SETENGAH MILIAR!)

*) Oka Purisetya adalah Bonek Green Nord yang pernah menjadi panitia laga Battle of Heroes.