Klub Indonesia Masih Butuh Pemain Senior

Mat Halil. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

“Pohon bisa hidup tanpa buah tapi bukan tanpa akar dan daun.”

Hari yang ditunggu-tunggu tentang berbagai hal mengenai Liga 2 beserta perangkatnya akan diputuskan. Namun yang menarik perhatian adalah regulasi batasan usia pemain yang diperbolehkan berlaga di Liga 2. Bisa dibilang, liga kasta kedua ini adalah Liga Murni Indonesia. Mengapa demikian? Ya karena di liga ini, tak diperbolehkan seorang pun pemain asing merumput. Hal ini tentu bagus untuk persaingan pemain lokal.

Namun soal pembatasan usia, apakah memang harus dilakukan saat ini? Apakah memang bagus untuk meregenerasi pemain muda tanpa kehadiran pemain senior yang berpengalaman dan masih bisa menunjukkan kemampuan serta menularkan ilmunya kepada pemain muda? Pemain senior di Indonesia memang banyak tapi senior yang berpengalaman di Liga 2 tak sebanyak di Liga 1. Begitupun sebaliknya. Kesempatan mereka bermain di Liga 1 pasti kalah dengan pemain muda yang sedang bagus-bagusnya.

Seperti yang diutarakan salah satu pemain senior yang juga pemain Inti Persebaya, Rachmat Afandi. Ia mengungkapkan kesempatan bermain di Liga 1 tidak sebanyak bermain di Liga 2. Sedangkan ia sudah diikat kontrak oleh manajemen Persebaya. Lantas apa tanggung jawab PSSI mengenai hal tersebut jika regulasi usia benar-benar diterapkan?

Dan bukan hanya Rachmat Afandi saja yang bernasib demikian, Abah Mat Halil pun terancam kariernya sebagai pemain sepak bola karena regulasi yang bikin cemas ini. Memang masih ada kesempatan bermain di Liga 1 tapi apakah ada jaminan jam bertanding atau mendapatkan klub sesuai dengan keinginan mereka terutama pemain yang memiliki loyalitas tiada batas kepada klub yang dicintainya.

Jika PSSI mau bertanya peran kedua pemain kepada semua pemain muda di Persebaya, tentu posisi mereka sangat vital. Pemain muda Persebaya membutuhkan mereka berdua. Pemain muda Persebaya membutuhkan sosok rekan lapangan sekaligus “penuntun, panutan dan pelatih”. Dan masalah ini tidak terjadi di Persebaya, namun di semua peserta Liga 2.

BACA:  Orde Baru, Ingatan, Visualitas Bonek, dan Agama Baru

Apakah pemain muda benar-benar bisa profesional, benar-benar bisa regenerasi tanpa kehadiran pemain senior yang berpengalaman? Jika memang diberlakukan, setidaknya PSSI dengan arif memperlakukan regulasi ini pada kompetisi berikutnya. Karena ini adalah hal baru bagi liga kasta 2.

Kiranya, Ketua Umum PSSI mau dan berkenan menahan regulasi ini untuk sementara waktu. Reformasi PSSI sudah berjalan ke arah yang benar, hanya membutuhkan waktu saja agar sepak bola Indonesia benar-benar kembali sehat dan berprestasi., Klub-klub Liga 2 ibarat sebuah pohon yang baru ditanam mulai dari pemain senior yang berpangalaman yang menjadi akar yang kuat serta pemain muda potensial sebagai cabangnya dan suporter sebagai daunnya untuk bernafas. Biarkan pohon tersebut tumbuh dahulu hingga berbuah pada suatu saat nanti. Jangan biarkan pohon tersebut tanpa sebuah akar kuat yang menopangnya.

Kami tahu Ketua Umum PSSI yang terhormat bapak Edy Rahmayadi berlatar militer yang berdisiplin tinggi, arif dan bijaksana. Tentu semua klub Liga 2 juga ingin merasakan kebijaksanaan dan kearifan bapak. Tolong biarkan pemain muda klub-klub Liga 2 belajar langsung kepada pemain senior yang berpengalaman sebelum mereka menjadi pemain Liga 1 jika klub mereka promosi. Dan ijinkanlah para pemain senior yang berpengalaman mengajari dan menularkan ilmu mereka kepada juniornya.

Pemain junior membutuhkan pemain senior yang berpengalaman bukan hanya dari segi umur semata. Dan semoga kita masih bisa melihat penampilan pemain senior yang dulu hingga kini menjadi pemain kebanggaan kita pada kompetisi musim ini dan musim-musim berikutnya hingga mereka memutuskan gantung sepatu. Dan semoga regulasi tersebut hanya membatasi jumlah pemain di tiap klubnya bukan umurnya. Karena setiap klub mengontrak pemain senior bukan tanpa sebab maupun alasan yang tidak jelas. (*)