Sebaiknya Iwan Setiawan Minta Maaf ke Bonek

Iwan Setiawan. Foto: Joko Kristiono/EJ)

Persebaya Surabaya. Siapa yang tidak paham bahwa klub ini memiliki sejarah panjang dalam sepak bola Indonesia dan tentu saja memiliki pendukung yang setia, Bonek. Dalam beberapa bulan ini, seluruh pecinta Persebaya disuguhkan hal-hal menarik seperti sistem penjualan tiket yang sangat modern berbeda dari biasanya dan jersey yang memiliki desain khusus. Semua tampak mewah untuk klub sepak bola sekelas Liga 2.

Sebenarnya ada satu yang mengganjal di hati dan ini perasaan subjektif saya yaitu tidak yakin dengan pelatih yang ditunjuk manajemen Persebaya, Iwan Setiawan. Karena pelatih ini tidak sesuai dengan karakter Persebaya dan suka meremehkan lawan. Namun saya tetap berpikir positif mungkin saja ia akan mengubah sikapnya karena klub yang ia latih adalah Persebaya.

Beberapa pertandingan uji coba dilalui Persebaya dengan cukup baik dan seingat saya hanya kalah tandang melawan PSIS dan Cilegon United saat Dirgantara Cup. Saat yang ditunggu seluruh pemerhati Persebaya tiba. 20 April 2017 menjadi pertandingan pertama kompetisi Persebaya setelah tertidur panjang. Meski hanya Liga 2, animo penonton khususnya Bonek cukup tinggi walau masih banyak tribun yang kosong.

Pertandingan berjalan dengan tempo yang tinggi dan kita semua mengerti bahwa Bajul Ijo gagal meraih kemenangan perdana karena ditahan imbang 1-1 oleh Madiun Putra. Pertandingan ini sangat menyesakkan (atau memalukan?) karena selain pertandingan perdana di kandang, pelatih Iwan Setiawan meremehkan lawan sebelum sepak mula dengan mengatakan tim kampung. Mulai detik itu saya berpikir pelatih ini tidak akan bagus kedepannya untuk seluruh elemen di Persebaya.

Dan benar saja, pertandingan kedua Liga 2 saat tandang ke Martapura FC, Persebaya harus menerima kekalahan 1-2. Menyakitkan memang, karena sempat unggul terlebih dahulu. Kelemahan pelatih dalam dua pertandingan awal sangat kentara karena terlalu memforsir pemain di dalam latihan sehingga saat pertandingan sebenarnya, stamina pemain sudah terkuras. Alhasil 30 menit terakhir pertandingan, para pemain seakan-akan sudah tidak kuat bermain sepak bola.

Kekalahan tentu saja sudah biasa dalam pertandingan. Namun di sini nampak sifat asli Iwan Setiawan yang sangat memalukan dan membuat hati Bonek teriris. Dari berita maupun video yang beredar, Iwan Setiawan menunjukkan sikap yang buruk kepada Bonek yang sudah setia mendukung Persebaya dengan gesture yang tidak patut dicontoh dengan mengacungkan jari tengah seakan menantang para Bonek. Ia menghilang begitu saja dalam konferensi pers sesaat setelah pertandingan. Sikap pelatih seperti ini tentu saja tidak profesional karena bagaimanapun pelatih ikut bertanggung jawab atas performa klub. Iwan Setiawan hanya bagus di lisensi kepelatihan namun sikap dan sifatnya sangat buruk dan kekhawatiran saya diawal penunjukkannya terbukti tepat. Tagar #iwanout menjadi topik populer di Twitter sejak semalam sebelum saya menulis ini.

Namun ada poin penting dalam Persebaya saat ini. Dalam subjektif saya tentu saja. Memang benar dan wajar bila Bonek menuntut Iwan Setiawan untuk mundur saat ini. Namun hal tersebut bukan hal yang bijak dilakukan oleh manajemen karena masih dua pertandingan. Dan untuk memecat seorang pelatih dibutuhkan biaya lagi karena berarti memutus kontraknya? Alangkah baiknya Iwan Setiawan (ya saya masih berharap meskipun tidak yakin) mengubah sikapnya dan meminta maaf kepada seluruh Bonek yang sudah terlanjur sakit hati kepadanya. Untuk manajemen jangan terburu gegabah untuk memecat Iwan, ada baiknya diberikan waktu satu dua pertandingan lagi. Laga terdekat tandang melawan PSBI Blitar. Bila secara permainan dan hasil membaik dibandingkan lawan Madiun dan Martapura maka Iwan pantas dipertahankan.

BACA:  Provokasi Pemain Martapura dan Sanksi Komdis PSSI

Terperosoknya Persebaya di dasar klasemen tentu saja tidak hanya kesalahan Persebaya namun para pemain di lapangan tentu memiliki andil yang besar. Dalam dua pertandingan Persebaya, para pemain seakan tidak memiliki rasa bangga dengan lambang Persebaya di dada yang mereka kenakan (maaf kalau agak vulgar). Karena mereka bermain dengan lambat dan sering individual. Padahal tim yang baik adalah tim yang memiliki kekompakan tinggi dan keinginan untuk memenangkan pertandingan. Hal ini yang belum nampak dari para pemain Persebaya saat ini. Melihat Persebaya sekarang tidak seperti melihat Persebaya dahulu yang memiliki semangat khas arek Suroboyo.

Haruskah saya menyebutkan pelatih yang pas bila Iwan benar didepak? Tidak masalah kan ya tidak ada yang salah dengan perspektif tiap individu. Bila benar Iwan dipecat, saya rasa mantan pemain, asisten pelatih, dan pelatih Persebaya Ibnu Grahan sangat cocok untuk menggantikan Iwan. Ibnu Grahan sangat cocok untuk melatih Persebaya karena tentu saja sudah sangat paham akan kultur sepak bola Surabaya. Atau ingin mencoba ide gila? Coba merekrut M Zein Alhadad yang saat ini melatih Persida Sidoarjo. Saya rasa juga cocok karena pernah bermain di Surabaya dan tentu saja pengalamannya melatih Deltras Sidoarjo maupun Persija Jakarta serta sebagai asisten pelatih Timnas Indonesia sangat bermanfaat bagi Persebaya. Ada lagi yang banyak disebutkan di Twitter yaitu Widodo C Putro yang diinginkan Bonek menangani Persebaya. Pengalaman melatih Persegres Gresik maupun Sriwijaya FC bisa dipertimbangkan manajemen.

Tetap berpikir positif karena pikiran positif akan membawa kita semua khususnya Persebaya menuju kebaikan. Yang terpenting saat ini tetap dukung Persebaya bagaimanapun kondisinya karena Persebaya butuh dukungan. Dan saya rasa target bertahan di Liga 2 sudah realistis dengan kondisi saat ini. Saya menyempatkan menulis memalingkan hidup sejenak dari skripsi karena gemas dengan performa Persebaya. Siapa pun pelatihnya dan pemainnya, bila sudah berada di Persebaya maka wajib untuk bermain semangat dan pantang menyerah untuk mengembalikan kejayaan dan kesuksesan Persebaya di masa yang akan datang. Salam satu nyali, wani!

*) Penulis: Yudha Friyanka, Twitter: @friyankayudha

Facebook Comments