Sepak Bola, Jalan Hidup Orang Indonesia

Cover buku Sepak bola, The Indonesian Way of Life

Semua manusia di muka bumi ini pasti mengenal sepak bola. Sebuah olahraga populer yang egaliter, tidak mengenal kasta. Sebuah olahraga yang dipuja layaknya dewa.

Indonesia termasuk negara dengan antusiasme masyarakat yang luar biasa terhadap sepak bola. Di sana tidak ada istilah kiamat untuk membicarakan sepak bola. Sebab, olahraga nomor wahid ini telah menjadi budaya, bahkan agama kedua. Indikasinya adalah keberadaan penggila sepak bola yang menjamur dimana-mana.

“Sepak bola Indonesia masih suci,” begitu yang dikatakan Antony Sutton, blogger asal Inggris. Namun, apakah sepak bola Indonesia sesungguhnya masih benar-benar masih suci? Melalui buku Sepak bola, The Indonesian Way of Life, Sutton membicarakan sisi lain sepak bola Indonesia.

Kisah-kisah di Tepi Lapangan

Barangkali tak banyak orang yang mengingat Hendri Mulyadi, pemain kedua belas yang turun di tengah-tengah kekacauan Timnas Indonesia saat melawan Oman dalam kualifikasi Piala Asia 2011 pada Maret 2009 silam. Saat itu Indonesia tertinggal 1-2 di menit ke-52. Lalu, tiba-tiba Hendri dengan jersey merahnya turun dari tribun, berlari menggiring bola dan melepaskan tembakkan ke gawang. Sayang, usahanya bisa ditepis kiper Oman, Ali Al Habsi.

Apa yang dilakukan Hendri semata-mata hanyalah wujud protes terhadap Timnas Indonesia. Aksinya tak lain merupakan luapan kekecewaan yang mendalam. Memang, selama ini antusiasme masyarakat Indonesia yang tinggi terhadap sepak bola lebih sering berhadiah rasa kecewa ketimbang prestasi.

Selain miskin prestasi, sepak bola Indonesia juga menyimpan penyakit. Katakanlah kepengurusan organisasi yang tidak beres dan pergelaran liga yang tidak jelas. Ketidakjelasan yang berujung pada kemunculan dua liga berseberangan, yaitu Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Primer Indonesia (LPI) pada beberapa tahun lalu. Dua liga tersebut kemudian menghasilkan musim subur. Ada dua Persebaya, dua PSMS, dua Arema, dan dua Persija sebagaimana yang dibahas dalam bab kedua buku ini.

Kisah memilukan sekaligus memalukan juga diungkap dalam buku ini. Salah satunya adalah kisah Diego Mendieta. Mendieta adalah pesepak bola berpaspor Paraguay yang bermain untuk Persis Solo. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Solo karena menderita penyakit Typhoid. Ironisnya, sudah empat bulan Mendieta tidak menerima gaji dari klub. Hal tidak pantas ini memang jamak terjadi di Indonesia.

Menjelang menghembuskan nafas yang terakhir, beberapa media lokal menulis kalimat-kalimat terakhir dari Mendieta, “Aku tak punya uang, aku hanya ingin tiket pulang, aku tak mau mati di sini, aku ingin bersama ibuku.” (halaman 23).

Terlepas dari perkara di atas, Sutton berbicara banyak soal klub sepak bola lokal. Dalam bab ke delapan dan ke sembilan, ia menyoroti Persib bandung dan Bobotohnya. Sutton mengulas bagaimana kultur yang berkembang pada Bobotoh dalam mendukung Persib. “Persib adalah budaya, jalan hidup! Semua dimulai sejak masa kakek moyang kami. Tak ada hal lain selain Persib, kami semua biru!” (halaman 117).

Faktanya memang besar rasa cinta orang Bandung bahkan orang Sunda terhadap Persib tidak dapat diragukan lagi. Buktinya, keberadaan klub selain Persib yang berdomisili di wilayah Bandung, seperti Persikab dan PBR tidak pernah mampu mencuri perhatian mereka. Tidak ada klub di Jawa Barat yang mendapat dukungan sebesar¾atau paling tidak setara¾ dukungan yang didapatkan Persib.

BACA:  Persebaya Masuk Buku “1000 Football Clubs” Karya Penulis Prancis

Tidak hanya itu, Sutton juga mengangkat kisah Bonek dalam bab ke sepuluh yang bertajuk “May the Green Force Be With You”. Melalui bab ini Sutton berbicara banyak soal sepak bola Surabaya. Terlebih perihal lenyapnya Persebaya dari sepak bola Indonesia. Beberapa tahun lalu memang kondisi Persebaya sedang tidak kondusif sebagai buntut dari ketidak kondusifan sepak bola Indonesia—yang memunculkan dua kompetisi. Saat itu Persebaya memutuskan untuk ikut berkompetisi di bawah naungan LPI. Sayang, keputusan tersebut ternyata berbuntut panjang. Persebaya “dibuang’’ PSSI , kemudian PSSI membuat klub tandingan yang didatangkan dari Persikubar.

Sutton bercerita bagaimana lika-liku yang dialami Persebaya. Ia juga bercerita tentang bagaimana Bonek mencintai dan memperjuangkan Persebaya agar kembali diakui PSSI dan turut menghidupkan dunia persepakbolaan nasional. Sutton bercerita dalam alur sejarah untuk mempresentasikan karakter para pendukung Persebaya ini. Konteks perlawanan arek-arek Surabaya terhadap tentara Inggris dalam perang 10 November 1945 dianalogikan sebagai perlawanan mereka terhadap PSSI.

Jika mereka tak sudi tunduk berlutut pada Kerajaan Inggris yang besar, agung, dan megah itu, lalu tentu tak ada satupun hal di muka bumi ini yang bisa membuat mereka membiarkan klub sepak bola kesayangan mereka dirampas begitu saja! (Halaman 145).

Pada bab terakhir, Sutton memberikan sebuah catatan yang depresif. Ia kembali mengulas hal buruk yang terjadi di dalam sepak bola Indonesia. Hal buruk yang membuat sepak bola Indonesia tak berdaya di mata dunia.

Tiada Kata Akhir untuk Sepak Bola

Sekali lagi, tidak ada istilah kiamat untuk membicarakan sepak bola Indonesia. Sebab di negeri yang konon sepak bolanya masih suci ini, sepak bola bukan sekadar drama 90 menit di atas lapangan hijau. Sepak bola adalah jalan hidup. Bahkan, saking luar biasanya gairah masyarakat Indonesia terhadap sepak bola sempat membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap sepak bola di Tangerang.

Buku ini menyajikan banyak kisah di balik lapangan yang tidak diketahui banyak orang. Dengan gaya bahasa naratif yang apik, Sutton berhasil menceritakan petualangannya sebagai seseorang yang menggilai sepak bola. Siapa saja yang membaca buku ini pasti tidak sabar untuk cepat-cepat merampungkannya. Apalagi buku ini sangat menarik karena Sutton berupaya membandingkan sepak bola yang terjadi di Inggris dengan sepak bola Indonesia.

Sutton sendiri merupakan orang Inggris yang sudah sangat akrab dengan sepak bola Indonesia. Ia sudah melawat ke berbagai stadion dan menyaksikan pertandingan klub-klub di berbagai kota. Melalui 17 bab dalam buku ini, ia meracik sisi terang dan kelam sepak bola Indonesia yang mampu memperkaya pengetahuan pembaca tentang sepak bola Indonesia. Setidaknya setelah membaca buku ini pembaca mampu menarik kesimpulan, apakah sepak bola Indonesia masih benar-benar suci atau tidak. (*)

Judul Buku: Sepak bola, The Indonesian Way of Life
Penulis: Antony Sutton
Penerbit: Kawos Publishing, Jakarta Selatan
Cetakan: I, Februari 2017
Tebal buku: xxxiv + 265 halaman