Persebaya, Berjuanglah dan Berjayalah

Pemain-pemain Persebaya merayakan gol pertama yang dicetak Rishadi Fauzi. Foto: Joko Kristiono/EJ

Liga 1 musim 2018 akan menjadi sejarah baru bagi Persebaya Surabaya. Untuk kali pertama sejak 2013, Green Force akan bermain di level teratas sepak bola Indonesia. Persebaya terakhir kali berkompetisi di level atas saat di Indonesia Premiere League (IPL). Setelah itu, Persebaya mengalami berbagai permasalahan sampai tidak diakui oleh PSSI. Sampai pada Januari 2017, di kongres PSSI di Bandung, status Persebaya kembali dipulihkan.

Kick-off Liga 1 dijadwalkan pada Jumat 23 Maret 2018 mempertemukan Bhayangkara FC menghadapi Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah itu dilanjutkan dengan sederet jadwal panjang untuk jadwal pertandingan lainnya. Menurut draft jadwal Persebaya akan melakoni laga perdana dengan menjamu Perseru Serui di Gelora Bung Tomo pada Sabtu, 24 Maret 2018. Inilah saat yang ditunggu oleh Bonek khususnya dan pecinta sepak bola tanah air umumnya. Kembalinya tim dengan nama besar dan sejarah panjang mewarnai sepak bola Indonesia.

Sejak era Liga Indonesia digulirkan, Green Force pernah dua kali menjadi juara. Masing-masing tahun 1997 saat mempunyai skuad berjuluk The Dream Team di bawah asuhan Rusdy Bahalwan. Dan terakhir tahun 2004 dengan sekumpulan bintang seperti Kurniawan DJ, Bejo Sugiantoro, Cristian Carrasco dengan pelatih Jacksen F Tiago. Di Liga 1 musim 2018, ada 10 tim yang pernah berstatus sebagai juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia baik di era perserikatan, galatama, maupun saat sudah menjadi Liga Indonesia.

Persebaya datang ke Liga 1 dengan status sebagai juara Liga 2 2017. Saat ini, Green Force dilatih oleh Angel Alfredo Vera sebagai pelatih kepala. Sebagai pelatih berpengalaman asal Argentina dan pernah menangani Persipura tentu dia sudah mempersiapkan anak asuhnya dengan baik. Dukungan penuh dari manajemen secara langsung harus menjadi pelecut para pemain dan tim untuk memberikan hasil terbaik. Juga totalitas Bonek yang sudah tidak diragukan lagi dalam menyokong Persebaya di manapun mereka bermain.

BACA:  Melawan Boling (Bondho Maling) dengan Gerakan dan Pemikiran

Liga 1 akan berbeda atmosfirnya dibanding Liga 2. Beberapa pemain sudah berpengalaman di level atas. Sebut saja Dimas Galih, Otavio Dutra, Ruben Sanadi, Fandry Imbiri, Robertino Pugliara, dan Rendi Irwan. Mereka bisa membimbing dan membagikan pengalamannya pada pemain lain yang sebagian besar adalah pemain muda. Spirit khas Surabaya bisa ditularkan dan harus menjadi ciri tersendiri. Semangat berjuang dan selalu ngotot dalam bermain. Sebagai tim debutan tetapi mempunyai nama besar dan suporter yang militan tentu membuat semua lawan akan mempunyai motivasi besar mengalahkan Persebaya.

Faktor non teknis internal Persebaya hampir tidak ada. Penginapan pemain yang layak, fasilitas latihan yang memadai, asupan gizi yang terkontrol, kontrol kesehatan yang terjamin, dan terutama gaji dan bonus pemain yang lancar. Ini tentu harus diimbangi dengan kinerja semua tim memberikan 100 persen kemampuan yang ada. Kurang dari dua minggu lagi Persebaya akan memulai laga pertama. Sebelumnya pada Minggu 18 Maret 2018 menurut agenda akan dilaunching secara resmi skuad Persebaya sekaligus jersey musim ini.

Jadikan slogan #KitaPersebaya lebih membumi antara manajemen, tim, dan Bonek untuk satu visi dan misi menjadi yang terbaik untuk Persebaya. Jalan akan panjang dan berjalanlah bersama-sama. Kritikan dan masukan akan selalu ada. Evaluasi sambil berjalan juga wajib dilakukan. Seperti sebuah banner ikonik di tribun stadion “Persebaya Panggilan Jiwa”. Sebuah penggalan lagu Persebaya Emosi Jiwaku “Yakinilah bahwa kau tak kan sendirian Green Force Persebaya Emosi Jiwaku”. (*)

Facebook Comments