Akankah Ada Keadilan Bagi Si Gembel?

136
Aremania masuk lapangan saat istirahat babak pertama. Foto: Joko Kristiono/EJ
624Shares

Nek Aku Gembel Koen Kate Lapo? Ya, tak apa disebut gembel, maling gorengan, dan sebutan miring lainnya. Bagi kita, Bonek, sebutan seperti itu sama sekali tak membuat risau. Wes biasa. Justru menjadi pemicu, penyemangat WANI berubah dan berbuat baik.

Menjawab semua tudingan miring tersebut dengan kerja-kerja kemanusiaan yang penuh kebaikan. Baik lewat pendirian panti asuhan, terjun langsung menjadi relawan bantuan bencana dan sederet kebaikan lainnya.

Karenanya, Bonek tak perlu dikasihani. Atau mengiba-iba minta diakui semua jalan kebaikan yang dilalui. No Way! Biar saja, Bonek melalui jalan sunyi dengan Tuhan yang menjadi saksi.

Justru, yang patut dikasihani, mereka-mereka yang petentang-petenteng. Bermulut besar. Mengklaim sebagai yang terbaik. Tetapi, kelakuan di lapangan justru menampar muka sendiri. Memalukan. Orang-orang seperti ini, biasanya terlena dengan fatamorgana, lupa dengan dunia nyata yang telah berubah. Bangga dengan istana ilusi yang dibangun dan bayangan yang diciptakan. Seperti Singa sirkus. Selalu haus dengan tepuk tangan penonton dan puja-puji sekelilingnya. Tetapi, ketika lampu dipadamkan dan penonton berangsur bubar, jiwanya menjadi kerdil. Mentalnya berubah menjadi kucing kurap yang mengiba-iba suapan makanan dari tuannya. Tampang boleh sangar tapi mentalnya benar-benar gembel-segembel-gembelnya. Jadi, siapa yang layak disebut gembel sesungguhnya?

Ke depan, urusan per-gembel-an ini masih mencari pembuktian. Bergerak mencari keseriusan akan keadilan. Ini merujuk laga Arema FC vs Persebaya di Malang, Sabtu (6/10) lalu. Hasil akhir tak penting. Lebih menarik, sanksi apa yang akan dijatuhkan Komdis PSSI pasca pertandingan ini. Bagaimana regulasi diinjak-injak secara telanjang dan terang benderang. Entah ini hebat atau dungu, semua itu dilakukan di depan para petinggi PSSI yang turut hadir menyaksikan laga ini. Ada Sekjen Ratu Tisha, Gusti Randa dan jangan lupa, ada juga Waketum PSSI Iwan Budianto.

Kita percaya, para petinggi PSSI yang terhormat tak akan tinggal diam melihat pelanggaran nyata tersebut. Pasti akan ada sanksi terhadap ulah-ulah yang tak bertanggungjawab tersebut. Termasuk besaran denda yang dijatuhkan. Tapi, bolehlah, untuk menyegarkan pikiran mereka, ada baiknya, kita sampaikan denda yang diterima Persebaya kala menjamu Arema FC di putaran pertama lalu. Besarnya Rp 410 juta. Jenis pelanggaran yang dilakukan, nyalakan flare, kencingi gawang, pelemparan, meludahi pemain lawan. Beberapa juga terjadi di Kanjuruhan, kemarin. Malah, ada beberapa pelanggaran yang lebih ‘maju’. Suporter masuk lapangan. Lempar uang, ancam dan bersitegang dengan kiper Persebaya saat pemanasan dan robek mini flag Persebaya usai laga. Hmmm, udah bisa ditebak kan, kira-kira berapa denda yang akan dijatuhkan?

Bola di tangan Komdis PSSI. Apapun sanksi yang akan dijatuhkan nanti. Termasuk bila gagal memenuhi harapan akan rasa keadilan dari mereka yang dicap gembel dan maling gorengan. Tapi, ini semoga tidak terjadi karena makin meredupkan asa damai yang juga banyak diimpikan selama ini.

*) Ram Surahman, Bonek Benjeng Bersatu

Facebook Comments