Pelecehan Regulasi di Kanjuruhan yang Ditonton Langsung Petinggi PSSI

205
Aremania masuk lapangan usai laga berakhir. Foto: Rizka Putra Perdana for EJ
977Shares

Persebaya kalah oleh Arema FC di pekan ke 24 di Stadion kanjuruhan, Malang. Tensi pertandingan begitu tinggi hingga Ruben Sanadi dan Abu Rizal Maulana menerima kartu kuning.

Banyak hal menarik di laga itu, salah satunya pencederaan kesepakatan sepak bola tanpa provokasi dan nyanyian ejekan bernuansa kebencian. PSSI telah meramu formula untuk meredam hal itu dengan regulasi. Artinya, operator liga telah memiliki payung hukum untuk menegakan sepak bola yang sehat dan bermartabat.

Namun regulasi tidak gayung bersambut. Regulasi yang diciptakan hanya untuk tim tim yang mereka “benci” lahir batin. Persebaya seakan menjadi musuh bersama mereka mereka yang duduk di tribun VVIP Kanjuruhan.

Ratu Tisha tidak menjaminkan pada Bonek dan publik nasional bahwa regulasi akan dipertunjukan oleh dua tim yang memiliki rivalitas paling menakutkan. Namun apalah daya sekjen PSSI itu dalam himpitan Iwan Budianto yang duduk di sebelahnya. Satu lagi federasi dikalahkan oleh orang per orang, dan selama itu, ekspektasi kita untuk melihat sepak bola nasional yang bermartabat kita buang di tong sampah saja.

Sekjen PSSI, Ratu Tisha, menyaksikan laga Arema FC ves Persebaya dari tribun VVIP Stadion Kanjuruhan. Foto: Joko Kristiono/EJ

Aremania memasuki lapangan di akhir laga. Cara mengelak PSSI bahwa laga itu sudah usai oleh peluit wasit dan otomatis regulasi terhenti. Kajian ahli-ahli regulasi tentu tidak melihat seperti itu. Ini pencederaan kesepakatan omong kosong federasi dengan individu individu rakus yang bagaimana cara merusak sepak bola dengan dalil-dalil.

Dinginnya Malang membuat Ratu Tisha nyaman dan menyumbat telinga. Ia tak tahan dingin, nyanyian-nyanyian ujaran kebencian pun telah menjadi menu briefing official broadcast hingga sekelas Indosiar tak mampu menampilkan audio yang jernih. Karena kalimat-kalimat kebencian itu mampu merobek kualitas mixer audio mereka. Nyanyian tetap terdengar walau level suara diturunkan.

BACA:  Tensi Tinggi, Namun Rivalitas Hanya 90 Menit

Jangan berharap pada keadilan PSSI. Kita nikmati saja sebagai hiburan ala FTV Indosiar yang kerap menampilkan azab, azab, dan azab. Keadilan tetaplah milik Tuhan. Kemunafikan federasi hanyalah dosa-dosa manusia yang tak akan pernah dimaafkan oleh siapapun. Tuhan maha pengampun dan penyayang, namun tidak untuk PSSI.

Salam Satu Nyali! WANI!

Facebook Comments