Tiket Terusan, Pemecah Masalah atau Penambah Masalah?

160

8 Januari 2017 adalah hari bersejarah bagi Persebaya karena hak mereka untuk berpentas di liga Indonesia telah dikembalikan. Terlepas dari silang sengkarut yang ada selama ini namun Surabaya patut bergembira. Kado indah telah diberikan.

Eits tapi pendukung Persebaya tidak boleh larut berkepanjangan dengan euforia sesaat nan memabukkan ini. Mengapa? Karena yang terpenting adalah kesiapan komponen internal Persebaya, mulai pelatih, pemain, pihak manajemen hngga fulusnya. Buat apa hak bermain, kalau klub tak juga siap mempercantik dirinya. Tidak mungkin bukan para pendukung ini menjadi pemainnya? Jadi yang utama harus disiapkan adalah kesiapan klub. Investor sudah ada, kini saatnya untuk berbenah diri karena kurang dari dua bulan, Liga 2 akan dimulai.

Pembenahan Persebaya harus dilakukan secara tepat dan bersama seluruh stakeholders. Karena secara karakteristik Persebaya sudah mendarah daging di setiap warganya. Saya lihat sendiri antusiasme mereka setiap malam minggu atau saat Car Free Day berlangsung, dan secara tidak sadar juga geleng-geleng kepala karena anak SD pun sudah “diberi didikan” untuk tahu dan mencintai Persebaya. Meski kadang secara logika tidak masuk akal juga karena klub kebanggaan mereka pun tidak bermain ketika itu. Tapi positifnya secara hitungan ekonomi, ini pondasi yang baik untuk investor dan masa depan Persebaya. Fanatisme itu ada, bertumbuh dan tak pernah mati.

Mesin pencetak uang

Tugas pertama yang cukup krusial selain penunjukan siapa pelatih dan pemain yang akan mengisi skuad adalah pengembangan bisnisnya. Kesiapan pengembangan bisnis klub juga harus dikebut secara cepat oleh manajemen. Tidak mudah memang, tapi bisa dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat.

Ibarat kendaraan, pendukung adalah mesin pencetak uang klub. Jangan konotasikan ini secara negatif, karena suka tidak suka kemajuan klub itu datangnya dari fanatisme pendukungnya. Surabaya dan Bonek tak perlu diragukan lagi tingkat fanatismenya karena itu perlu dikelola dengan tepat pula oleh manajemen. Jika ingin berbenah, kini saat yang tepat untuk memberi fans sarana untuk luapkan kegembiraan. Di sisi lain ini juga waktu yang tepat bagi manajemen mengelola klub dengan profesional.

Bicara untung-rugi, profesional bukan berarti pemaksaan kehendak. Di mana biasanya sebagai pemodal, fanatisme dipandang investor dengan kacamata kuda sebagai ceruk bisnis menguntungkan yang harus dieksploitasi. Kenyataannya, ini salah besar. Tak akan ada keuntungan selama manajemen tidak bisa mengelola pendukung mereka. Jadi harus ada win-win solution bagi keduanya.

Edukasi mengajak pendukung untuk datang dan menonton ke stadion dengan membeli tiket bisa menjadi langkah paling awal untuk berbenah. Tak ada tiket, tak ada Persebaya, tak ada pula kegembiraan. Cukup sulit namun wajib hukumnya, karena terkait dengan keberlanjutan keberadaan klub Persebaya, nyawa mereka sendiri. Bicara tiket, kini di kalangan suporter sudah ada wacana memunculkan tiket terusan. Lalu tepatkah ini dipraktekkan Persebaya atau tidak? Menurut kami ini tepat dan sebaiknya memang harus dilakukan secepatnya.

BACA:  Mengelola Persebaya, Belajar dari Amerika

Banyak keuntungan dari kebijakan tiket terusan ini. Pertama, edukasi pada pendukung. Manajemen memberi seluruh pendukung Persebaya kesempatan untuk berubah. Cap sosial yang entah mengapa masih suka diberikan bahwa Bonek suka melakukan berbagai cara untuk masuk stadion tanpa membayar justru dapat mencoreng nama besar dan nilai jual Persebaya itu sendiri. Jika segelintir Bonek atau pendukung Persebaya berulah, klub lah yang akan merugi. Pendidikan dan rasa memiliki klub itulah yang harus diberi dan ditanamkan oleh manajemen bersama dengan Bonek dan pendukung Persebaya lainnya.

Kedua, masuknya sponsor ke Persebaya. Image dan nama baik sebuah merek amat tergantung dengan potensi-potensi yang ada di dalam klub. Di Persebaya, potensi itu ada di fanatisme pendukungnya. Persebaya adalah magnet bagi sponsor dan image positif itu yang harus diperlihatkan oleh para pendukungnya. Dengan banyak penonton yang datang ke stadion, rating TV akan naik signifikan. Artinya jutaan mata memandang, sponsor akan datang dengan sendirinya jika fanatisme dan kegembiraan itu terlihat tanpa dibumbui hal-hal buruk seperti kegiatan anarkis atau kerusuhan antar suporter.

Ketiga, data pendukung terekam. Di era Big Data, inilah komponen yang bisa dijual manajemen ke sponsor agar mereka mau bergabung. Rekaman data dari penjualan jumlah tiket terusan dapat dimonetisasi untuk kemajuan klub dan pendukung. Contohnya, edukasi pendukung serta community engagement yang dilakukan oleh klub tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana ini bisa didapatkan dari monetisasi rekaman data tiket terusan tersebut.

Keempat, aktivitas ekonomi masyarakat Surabaya meningkat. Tiket terusan memaksa suporter untuk membeli tiket. Keuntungannya dengan membeli tiket terusan, harga jual lebih murah daripada harga tiket biasa. Tak hanya itu, biasanya ada kemudahan-kemudahan lain yang didapatkan dari tiket terusan seperti 1 merchandise resmi atau potongan harga untuk pembelian merchandise resmi maupun makanan dan minuman di stadion. Paksaan untuk membeli tiket itu tentunya akan membuat para pendukung “berusaha” dan “berkreasi” untuk mendapatkan uang tiket tersebut yang harganya biasanya memang tinggi di awal namun sepenuhnya menguntungkan sampai akhir. Kondisi ini diperkirakan dapat memberi dampak positif bagi kota Surabaya secara keseluruhan, karena kegiatan perekonomian bergerak. Kalau manajemen pintar, kreatifitas para pendukung pun bisa diparalelkan dengan kegiatan bisnis mereka.

Berharap momentum

Liga akan diputar dalam hitungan kurang dari 2 bulan. Mungkinkah solusi ini bisa dilakukan secara cepat? Jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Semua kembali ke stakeholder Persebaya mulai dari investor, manajemen, bonek, pendukung Persebaya dan masyarakat Surabaya seberapa siap mereka untuk menerima perubahan ke arah industri sepakbola. Sekarang atau mundur satu tahun lagi. Bola saat ini ada di tangan manajemen dan kita yang mendukung Persebaya. Wani!

*) Adipurno Widi Putranto, tinggal di Surabaya 7 hari setiap bulannya. Bisa ditemui di akun @analisiscetek atau analisiscetek@gmail.com