Kritik Adalah Tanda Cinta Untuk Kebanggaan

Capo Ipul di depan ribuan Bonek yang longmarch menuju Taman Bungkul. Foto: Joko Kristiono/EJ

Salah satu keunggulan sepakbola Indonesia yang patut dibanggakan adalah dalam aspek fanatisme suporter. Tak perlu diragukan lagi, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola memang begitu luar biasa.

Sepakbola sudah mengakar begitu kuat dalam realitas kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Bahkan boleh dibilang sepak bola dalam hal ini klub telah menjadi semacam kebanggaan atau identitas dari sebuah kota. Sebut saja Persebaya yang menjadi identitas dari kota Surabaya. Arema yang menjadi identitas kota Malang.

Atau bahkan bisa juga klub sepak bola menjadi identitas dari sebuah provinsi seperti halnya PSM Makassar yang menjadi identitas masyarakat Sulawesi Selatan, PSMS Medan yang menjadi identitas masyarakat Sumatera Utara atau Persib Bandung yang menjadi klub kesayangan mayoritas masyarakat Jawa barat.

Berbicara masalah fanatisme suporter maka tidak akan pernah bisa dilepaskan dari dinamika suporter itu sendiri. Seiring dengan berkembangnya zaman dan globalisasi, kelompok suporter di Indonesia pun telah berkembang secara dinamis baik dari segi paradigma (pola pikir) maupun dari segi gaya (atribut).

Suporter pada hakikatnya adalah pemilik klub, yakni pemilik klub dari aspek emosional atau ikatan psikologis yakni rasa memiliki atas dasar ikatan batin dan pikiran. Maka dari itu rasa cinta sebuah kelompok suporter kepada klub kesayangannya tentu teramat besar, apapun akan mereka lakukan demi klub kesayangannya. Dan oleh karenanya hasrat dan tujuan mereka tentunya adalah dari sisi prestasi.

Menurut hemat saya, pada dasarnya ada 3 peran penting yang dimiliki oleh suporter yang mana akan sangat mempengaruhi kondisi sebuah klub, baik kondisi psikologis, finansial ataupun teknis, yakni:

  1. Dukungan yang masif

Dukungan yang masif adalah peran yang dapat dilakukan oleh suporter untuk mengangkat moril dan kondisi psikologis tim kebanggaannya. Nyanyian, dukungan, dan sorak-sorai suporter dalam mendukung klubnya akan membuat motivasi dan semangat seorang pemain maupun tim secara kolektif akan terangkat. Dampaknya mereka akan memiliki motivasi berlipat ganda untuk memberikan yang terbaik demi klub dan suporter yang telah mendukung mereka. Maka salah satu kunci sebuah tim untuk dapat meraih kesuksesan adalah adanya dukungan suporter yang masif, baik di kandang maupun di luar kandang.

  1. Mendukung keuangan klub

Selain sponsor dan hak siar, sumber pendapatan klub yang bisa diandalkan adalah dari pemasukan tiket pertandingan oleh penonton dan suporter. Di sini paradigma pemikiran dari para suporter akan sangat mempengaruhi.

BACA:  Menggagas Tayangan Streaming Laga Persebaya

Suporter yang menyadari bahwa peran mereka bukan hanya untuk sekedar memberikan dukungan moril namun juga memberikan dukungan dana bagi nafas klub (dari penjualan tiket pertandingan) tentunya akan paham bahwa dengan memasuki stadion dengan membayar tiket (bukan melompat pagar atau gratis) merupakan salah satu bentuk sumbangsih mereka untuk kehidupan klub kesayangannya.

Dukungan yang masif yang diimbangi dengan paradigma pemikiran dari para suporter seperti di atas tentunya akan sangat berpengaruh untuk mendongrak kondisi finansial klub. Jika kondisi finansial klub sehat maka peluang untuk meraih prestasi tentunya lebih besar.

  1. Mempengaruhi kebijakan klub

Suporter boleh dibilang sebagai konstituen dari sebuah klub. Suara, kritik, atau uneg-uneg dari suporter seringkali bisa mempengaruhi ataupun merubah kebijakan dari pengelola klub. Dan seringkali perubahan kebijakan klub itu menyangkut dan mempengaruhi kondisi teknis dari sebuah klub, misalnya pergantian pelatih, pencoretan pemain, pembelian pemain dan hal lainnya. Oleh karena itu suporter dituntut untuk selalu bersikap kritis terhadap berjalannya pengelolaan klub kebanggaannya. Karena suporter sendiri memiliki pengaruh yang tidak kecil untuk bisa mempengaruhi kebijakan atau keputusan pengelola klub.

Dari ketiga peran ini tentunya peran nomor 3 tidak bisa dianggap remeh. Sayangnya budaya kritis itu dianggap negatif, di mana jika ada suporter yang galak kepada manajemen, suporter yang lainnya dengan cepat membela manajemen seraya membentak si pengkritik dengan kalimat semacam: Sok tahu, tidak tahu terima kasih, memangnya apa yang sudah kamu perbuat untuk tim?, dll.

Menyedihkan sekali, kekuatan masyarakat sipil justru dilemahkan oleh masyarakat sipil itu sendiri. Sikap kritis suporter juga dikerdilkan oleh suporter sendiri. Kediktatoran lahir saat publik mulai lupa pentingnya kritik, dan hal yang terkecil adalah mengkritik saat mengalami kekalahan.

Kritik, ya, kritik saja. Sebagaimana jelek ya jelek saja. Butut ya butut saja. Setiap orang harus berani mengatakan sesuatu yang buruk sebagai buruk bahkan walau tidak atau belum tahu solusinya seperti apa. Sebab mendiamkan sesuatu yang buruk, seakan semuanya baik-baik saja, adalah sejenis keburukan yang lain.

Pahamkan lagi tentang kritik dan benci ya dulur-dulurku. Apa yang dilakukan dulur-dulur Bonek yang mengkritisi kebijakan-kebijakan manajemen bukan karena benci tapi cinta.

Wassalam,
Salam Satu Nyali!

Facebook Comments