Menyanggah Tuduhan Persebaya Main Mata Lawan PSMS

76
Foto: Official Persebaya
569Shares

PSMS menghentikan tren positif Persebaya dengan skor yang mencolok 4-0. Perasaan seluruh Bonek luluh lantak seketika. Tidak terkecuali saya pribadi. Berbagai macam kekecewaan pun dilontarkan. Namun terdapat satu tema besar yang dibawa yaitu tuduhan kepada Persebaya maupun pemain yang ikut “bermain mata”.

Ini adalah TUDUHAN SERIUS, sangat amat serius malah. Klub sebesar Persebaya disangka bermain dengan mafia. Tapi menurut saya, tuduhan yang sebesar ini harus didukung bukti kuat. Mungkin di antara njenengan akan banyak yang bilang “mainnya tidak seperti biasanya, ya pasti dibayar”. Saya akan mencoba menyanggah tuduhan tersebut dengan cara menelaah melalui logika saya dan berusaha netral dalam penilaian pertandingan kemarin.

4 gol yang bersarang ke gawang Miswar tidak memiliki indikasi pemain mbalelo. Pemain lengah dan kalah kualitas, memang iya. Gol pertama terjadi lewat tendangan bebas Alwi Selamat. Sebelum memantul ke tanah, terlihat ada beberapa pemain yang menghalangi pandangan Miswar. Bola yang berubah arah setelah memantul dan pandangan yang terhalang menjadikan gol PSMS terlihat normal menurut saya.

Sedangkan untuk Gol Frets Butuan jelas terlihat keunggulan lawan dalam hal kecepatan. Syaifuddin yang memang memiliki speed lebih dibawah Frets dengan mudah dikalahkan lewat adu sprint. Sebelum akhirnya Frets melepaskan tendangan keras yang memang susah untuk dihalau.

Sisanya PSMS “beruntung”. Gol Rachmad Hidayat dan Shohei Matsunaga sudah berusaha dihalau oleh pemain Persebaya. Sayang kekuatan dan akurasi tendangan mereka memang sedang bagus. Terlepas dari 4 gol yang tercipta, Miswar juga melakukan sedikitnya 3 save krusial. Saya kira proses terciptanya semua gol tidak memenuhi syarat tuduhan bahwa Persebaya disuap.

Lalu dari segi permainan. Jelas Persebaya sedang TIDAK pada performa terbaiknya. Namun BUKAN berarti mereka melakukan dengan SENGAJA. Peter Butler sepertinya benar-benar belajar banyak dari pertemuan pertama. 2 gol Persebaya saat di GBT semua tercipta akibat tidak adanya man to man marking terhadap pemain depan (silakan dicek cuplikan gol putaran pertama). Saat di Medan, David, Osvaldo dan Irfan berhasil ditempel ketat selama 90 menit.

Terlihat PSMS bermain lebih bagus. Serangan balik cepat lewat umpan terobosan direct ke depan yang menjadi andalan Persebaya berhasil dilumpuhkan dengan defense line yang tinggi. Sehingga pemain Persebaya tercatat 9 kali terjebak offside.

Sekalinya David da Silva lolos, Roni Fatahillah harus diganjar kartu kuning akibat menghalangi pergerakan Si Gundul. Begitu juga dengan umpan kombinasi yang sering diperagakan Persebaya, akhirnya terhalang dengan pressing ketat Ayam Kinantan.

BACA:  Peter Butler Puji Perekrutan Pemain Persebaya

Beberapa kali Persebaya juga sempat mengancam. Dari David da Silva saja, Persebaya memiliki sedikitnya 5 peluang emas. Belum lagi tendangan luar kotak penalti dari Misbakus Solikin. Yang jelas, menurut saya suap-menyuap BUKAN alasan dari buruknya performa Green Force. Persebaya hanya sedang off day dan tidak beruntung. Kelelahan dan minimnya persiapan menjelang laga juga bisa saja saya ajukan sebagai pembelaan.

Coach Djadjang Nurdjaman jelas bertanggung jawab atas buruknya performa Persebaya melawan PSMS. Namun bukan berarti beliau “melacur”. Logika saya, sebagai mantan, beliau pasti ingin membuktikan kualitas di depan bekas klubnya. Beliau juga menekankan saat konferensi pers bahwa kemenangan PSMS medan bukan pemberian tapi memang Persebaya kalah secara permainan. Tidak ada yang namanya “main mata”.

Wajar jika dulur-dulur diluar sana memiliki persepsi bahwa Persebaya “bermain-main”. Karena dalam beberapa hari kita disuapi isu soal match fixing. Kegeraman dulur-dulur akan mafia pasti berbuntut pada penilaian permainan Green Force. Belum lagi figur ketua PSSI juga ada dibalik PSMS Medan. Bete akibat kekalahan malam minggu pasti makin menjadi-jadi.

Tapi, mari kita sama-sama kubur dalam-dalam tuduhan yang tidak berdasar tersebut. Jangan sampai kekesalan berbuah fitnah. Kita jaga kesolidan tim yang sudah mencatatkan 4 kemenangan beruntun. Kita paido secukupnya berdasarkan pengamatan teknis. Jangan ada lagi fitnah soal suap-menyuap ditubuh Persebaya. Saya yakin Persebaya bersih dari permainan kotor tersebut.

Mari stop komentar atau posting di sosial media yang memfitnah kepada tindak penyuapan. Karena sekali lagi itu adalah isu sensitif yang harus berdasarkan bukti. Bukan dari katanya dan katanya. Oh iya, satu lagi, bagi akun yang koar-koar anti mafia dan match fixing, saya sarankan untuk kembali berkaca. Jika anda masih menerima uang dari endorse website judi bola, lebih baik jangan terlalu keras dalam memfitnah soal match fixing. Ingat, bisa jadi uang yang anda terima hasil dari permainan yang anda sendiri bilang kotor dan menjijikkan tersebut.

Permainan kemarin memang buruk, but Sometimes we win, sometimes we learn. Liga menyisakan 1 pertandingan kandang, jangan sampai kita tidak belajar dari kesalahan. Mari fokus untuk mengawal Persebaya berpesta di penghujung Liga. (*)

*) Bonek Magang bisa ditemui di akun IG @bonekmagang

Facebook Comments