Fetisme Komoditas dalam Sepak Bola

Ketenaran sepak bola ini, tidak lepas dari peran kapitalisme. Kapitalisme mengindustrialisasi sepak bola sedemikian rupa hingga dapat dinikmati oleh masyarakat dunia dengan mudah. Kapitalisme menciptakan sebuah fetisme komoditas dalam sepak bola yang mengubah konstruksi sosial pada sepak bola.

Persebaya dan Bonek Menuju Sejarah Baru

Kompetisi tahun 1996/1997, mungkin itulah puncaknya saya begitu menyukai Persebaya dengan The Dream Teamnya era manajer Walikota cak Narto dan pelatih saat itu Rusdi Bahalwan.

Menunggu COK The Series sebagai Sarana Silaturahmi Antar Suporter

Cangkrukan Online Kita (COK) adalah sebuah diskusi online yang dimotori oleh Bonek Writer Forum (BWF). Menggunakan aplikasi Zoom, acara tersebut sudah dilakukan sebanyak empat kali dan sejauh ini.

Persebaya Akan Baik Jika Sekelilingnya Baik

Sesuatu akan baik jika sekelilingnya juga baik. Sebuah kalimat klise yang akan terus digunakan oleh orang-orang untuk menjelaskan sesuatu dengan cara sederhana, mencakup banyak topik termasuk tim sepak bola seperti Persebaya Surabaya.

Mencintai Persebaya Meski Bukan Klub Tanah Kelahiran

Dan semenjak saat itu, entah kenapa hati ini melekat kepada klub yang bernama Persebaya. Bukan dari klubnya yang bikin saya mengenal Persebaya, tapi suporternya yaitu Bonek. Di kala banyak berita yang menyebut Bonek sebagai biang kerok kerusuhan atau media yang sering mencitrakan bahwa Bonek itu bukan suporter melainkan perusuh.

Menjauhlah dari Keberuntungan

Melihat pertandingan yang sudah di maikan Persebaya baik secara langsung atau dari layar kaca jamak kiranya merasakan atmosfer pertandingan secara lansung. Ada emosi yang muncul baik hasil miror maupun hasil yang maksimal. Satu hal yang paling disorot adalah apa yang disajikan di lapangan yakni elemen dalam tim.

Persebaya, Prioritas atau Popularitas?

Tak perlu dijelaskan lagi bahwa sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari di belahan dunia. Tak memandang umur, gender, maupun agama meskipun kita tahu bahwa penguasa sejati dunia sepak bola tetaplah kaum pria.

Persebaya Bukan Hanya Sekadar Gelar Juara

Optimisme dan harapan yang tinggi hadir saat kendali Persebaya dipegang oleh Azrul Ananda. Setelah lebih dari enam tahun dibekukan oleh federasi karena persoalan dualisme, kini klub kebanggaan kota Surabaya ini kembali eksis di kancah sepak bola nasional dan internasional.

Persebaya di Era Digital

Agar bisa survive di era digital, salah satu upayanya adalah Persebaya harus sehat secara finansial.

Tulisan untuk Persebaya, Bapak, dan Lek Dar

Aku putra Pak Suradji, Kombes peretelon Medokan Ayu. Terlahir sebagai Bonek adalah sebuah mandat dari Gusti Allah yang aku syukuri. Bagaimana tidak, melahap berita Green Force sudah mengalahkan minum obat.

TERBARU

TERPOPULER